FAITH Abbey nyaris tidak mengenal Islam hingga menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah menengah atas. Perkenalannya dengan Islam baru dimulai setelah memiliki sejumlah teman Muslim saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Pertemanannya dengan sejumlah mahasiswa beragama Islam, tidak hanya membuat Faith (nama yang dipilihnya setelah menjadi Muslimah) mengenal Islam, namun juga membuatnya berminat mempelajari Islam lebih dalam, hingga akhirnya memutuskan menjadi mualaf pada tahun 2012.

Dikutip dari Okezone.com yang melansir kanal YouTube Cahaya Al Hidayah, Faith Abbey menuturkan, dirinya dibesarkan dalam keluarga religius di sebuah wilayah di Inggris. Abbey sangat rajin beribadah dan setiap akhir pekan dia selalu datang ke rumah ibadah.

Saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Abbey menemukan suasana cukup berbeda di kampus, yakni kentalnya nuansa keberagaman.

Di kampus, Abbey berkenalan dengan orang-orang beragam agama, termasuk agama Islam. Abbey bahkan berteman akrab dengan sejumlah mahasiswa Muslim. Mereka sangat baik dan sering membantu Abbey, termasuk dalam menyelesaikan tugas-tugas di kampus.

Abbey pun takjub melihat teman-temanya yang Muslimnya begitu taat menjalankan ajaran agamanya. Saat sedang asyik mengobrol, mereka izin sejenak untuk melaksanakan ibadah shalat.

Ketaatan teman-temannya menjalankan shalat fardhu lima waktu sehari semalam membuat Abbey sangat terkesan.

Karena penasaran dengan ajaran Islam, Abbey meminta teman-teman Muslim-nya untuk menjelaskan tentang agama Islam. Oleh temannya, Abbey lalu dipinjamkan terjemahan Alquran dan beberapa buku tentang Islam.

Setiap ada waktu senggang, dia selalu menyempatkan diri membaca-baca buku-buku itu. Salah satu buku yang membuatnya terkesima ialah cerita tentang keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pikiran Abbey pun akhirnya terbuka. Ia menyadari jika sejarah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat berbeda dari yang dituduhkan melalui stigma-stigma.

Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad justru membawa perubahan fundamental yang positif bagi umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari pun karakter Nabi Muhammad menunjukkan suri teladan universal, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, bahkan kepada mereka yang telah menyakiti.

Abbey mengaku makin tertarik mengenal Islam lebih dalam. Kemudian ia dipinjamkan buku tentang ketuhanan dalam Islam. Berhari-hari ia menyelami bacaan tersebut. Satu hal yang membuatnya terpana yakni konsep tauhid. Menurut ajaran Islam, Tuhan adalah Allah, Zat Yang Maha Esa, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Mengetahui hal itu, Abbey kembali menyadari bahwa teologi dalam Islam sangat sederhana dan masuk akal. Sejak saat itu Abbey tidak hanya terdorong untuk mengenal Islam. Ia juga ingin menjadi seorang pemeluk agama ini.

Pada 2012 ia pun mantap memeluk agama Islam. Di sebuah masjid di Inggris, Abbey mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan seorang imam setempat, di hadapan sejumlah jamaah. Dengan begitu, Abbey pun resmi menjadi seorang Musimah.

Ia kemudian memilih nama baru yang menunjukkan ke-Islamannya, yakni Faith, yang artinya iman dalam bahasa Arab. Perasaan bahagia pun menyelimutinya. Dengan ber-Islam, ia mengaku hatinya menjadi lebih tenteram.

Namun masalah muncul ketika sang ayah mengetahui jika dirinya masuk Islam. Ayahnya diketahui bergabung dengan organisasi anti-Islam. Selama lima tahun, Abbey dimusuhi ayahnya. Sama sekali ia tidak bisa berkomunikasi dengan ayahnya dalam kurun lima tahun itu. Pernah suatu kali ia mengunjungi rumah, tetapi yang didapat hanya respons dingin.

Keajaiban terjadi pada 2021, Abbey sang ayah mengajaknya makan siang bersama. Keduanya akhirnya kembali berbicara dalam suasana hangat dan ramah.

Hal yang sangat membahagiakan bagi Abbey, kini ayahnya sudah berubah. Sang ayah tidak lagi memandang sempit agama Islam dan kaum Muslimin. Ayahnya juga menceritakan pengalamannya bersosialisasi dengan orang-orang Islam.

Dari situ, sang ayah mengaku sadar betapa Muslim sangat baik kepadanya, murah hati, dan pemaaf. Kebaikan yang ditunjukkan orang-orang Muslim itu membuktikan bahwa Islam mengajarkan cinta kasih, bukan kebencian.

Abbey tidak henti-hentinya mendoakan kebaikan untuk sang ayah, termasuk berharap hidayah Allah menerangi hatinya.

Faith Abbey telah menikah dan memiliki tiga anak. Salah satu impian yang hendak diwujudkannya ialah menjadikan putri-putrinya sebagai penghafal Alquran.***