BARBARA berasal dari sebuah desa di utara Prancis. Dia dibesarkan di tengah keluarga non Muslim yang menganggap agama tidak begitu penting.

''Kami tidak berbicara banyak tentang Tuhan atau kepercayaan spriritual,'' kata Barbara seperti ditayangkan YouTube Ummu TV, dilansir dari viva.co.id.

Meski berada di tengah keluarga yang tidak peduli dengan agama, namun Barbara selalu berhubungan dengan Tuhan, walau tak tahu siapa Tuhannya. 

''Sebenarnya saya selalu merasakan keberadaan-Nya dan saya tahu bahwa saya dapat memiliki hubungan dengan-Nya. Tetapi dengan cara yang berbeda. Kemudian saya berkata pada diri sendiri, pasti ada cara yang lebih baik untuk mengenal pencipta dan saya berharap suatu hari saya menjadi dekat dengan-Nya,'' kata wanita berparas cantik itu.

Dia Barbara, wanita asal desa di utara Prancis ini menempuh pendidikan pasca sarjananya di kota Lilla Prancis. Dia sendiri tidak pernah mendengar apapun tentang Islam. Agama di dalam keluarganya dianggap sebagai mode.

Perkenalan Barbara dengan Islam dimulai saat menempuh pendidikan pasca sarjananya di kota Lilla, Prancis. Ketika berteman seseorang mahasiswa asal Maroko. Temannya yang bukanlah seorang Muslim itu mengajaknya berlibur di Maroko. 

''Dia menyarankan agar saya bergabung dengannya dalam liburan ke Maroko selama dua minggu tidak perlu membayar apapun untuk hidup dan makan dan tiketnya pun sangat murah,'' cerita Barbara.

Ketika Barbara pergi ke Maroko, dia menemukan sesuatu yang baru. Di sana dia merasa berada di planet yang berbeda. Pandangan buruk media tentang Islam pun seolah tertepis oleh tindakan masyarakat di Maroko. 

''Saya terkejut, sekolah kami pergi ke planet yang berbeda. Bahwa media selalu menggambarkan hal negatif tentang Muslim, tapi di sana, di Maroko, sikap dan tingkah laku mereka sangat baik,'' kata dia.

Ketika Barbara kembali ke Perancis, dia kemudian menyadari bahwa sudah saatnya dia memiliki pandangan tentang Islam bukan dengan prasangka. Dia kemudian mulai membaca Alquran. 

''Jadi saya mulai membaca Alquran dan mempelajarinya serta menulis ayat-ayatnya dalam bahasa Prancis. Saya melakukan banyak hal selama enam bulan,'' kata dia.

Enam bulan yang dijalani Barbara tidaklah mudah. Karena dia membaca terjemahan Alquran dengan hati-hati dan dia mencari tentang perbedaan dan argumen. Serta bagaimana untuk mematahkan argumen negatif mereka dan dia menemukan sisi lain dari kepribadiannya dialah Barbara, orang yang percaya pada pencipta-Nya.

''Saya mencoba membaca Alquran dan untuk memahaminya saya memiliki pengetahuan sebelumnya tentang Kristen Katholik di mana saya menemukan begitu banyak hal yang tidak logis. Itu sebabnya saya meninggalkannya,'' kata wanita muda itu. 

Dia ingat di hari ketika dirinya membaca Alquran untuk pertama kalinya dan ingat bagaimana Allah berbicara langsung dengannya melalui ayat-ayat-Nya dalam Alquran. Itu adalah perasaan yang sangat menyenangkan dan sangat emosional pada saat yang sama bagi Barbara yang saat itu berusia 24 tahun.

''Ketika saya membaca Alquran, walaupun saya orang yang kuat, saya jarang menangis dan saya tahan penderitaan serta saya biasa mendukung orang. Setelah saya membaca Alquran dan mulai mendekat untuk membantu orang, saya merasa bahwa saya adalah milik Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini dan saya adalah hamba Allah. Saya merasa sangat kuat, kita mungkin kuat, tapi kita bukan apa-apa tanpa Allah bersama kita,'' jelasnya.

Barbara menjadi semakin yakin bahwa Allah adalah Tuhannya dan dia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah, dan tanpa Islam hidupnya tidak berarti. Setelah itu, Barbara diketahui bersaksi (membaca syahadat) di depan publik di sebuah masjid melalui bimbingan seorang imam.***