PEKANBARU – Suara sepeda tua terdengar lirih di sudut Balai Pauh Janggi, Jumat (9/5/2025) pagi. Sepeda itu tak melaju kencang, namun cukup untuk membawa sejuknya aroma rempah yang menyusup dari kotak kayu di belakangnya. Di atas pedal, seorang perempuan berhijab merah dengan senyum ramah hadir sebagai penutur kisah: Mbak Nur, penjual jamu keliling yang sudah mengayuh warisan ibunya sejak 1998.

Bernama lengkap Nurhayati, perempuan asal Sukajadi ini dikenal luas oleh warga Kampung Melayu hingga pusat kota sebagai penjaja jamu yang setia. Di usianya yang menginjak 43 tahun, semangatnya tak pernah surut. "Mulai jualan jamu dari tahun 1998," ujarnya kepada Dea Gita, Founder Kotak Baca dan penggagas kegiatan Perempuan Dalam Karya.

Acara yang digelar di Balai Pauh Janggi ini turut dihadiri Bunda Literasi Provinsi Riau, Henny Sasmita Wahid, Anggota DPR RI Karmila Sari, Kepala Dispersip Riau Mimi Nazir, penulis Budy Utamy, serta dokter RS Santa Maria, Rumatha Veralisa. Mereka turut mencicipi jamu racikan Mbak Nur—beras kencur, kunir asam, dan sirih merah—yang disajikan dalam gelas kaca bening.

"Jamunya enak, manisnya pas, dan hangat loh," ucap Henny sambil tersenyum. "Ini tradisi yang harus dilestarikan. Jamu bukan hanya minuman, tapi bagian dari kearifan budaya kita."

Mbak Nur bukan sekadar penjual jamu. Ia adalah penjaga nilai-nilai yang diwariskan sang ibu. "Sosok yang paling menginspirasi saya adalah ibu saya sendiri. Beliau sudah meninggal, tapi ilmunya masih saya pegang sampai sekarang," tuturnya sambil menahan haru.

Baginya, jamu bukan hanya soal meracik rempah. Ia adalah bahasa cinta. Setiap takaran kunyit, asam, atau daun sirih merupakan pengingat dari nasihat ibu yang pernah berkata: "Kamu harus semangat. Seandainya mamak sudah tidak ada, resep jamu inilah yang bisa dimanfaatkan."

Di balik kotak kayu dan sepeda birunya, Mbak Nur merawat warisan itu. Ia berkeliling bukan hanya untuk menjajakan minuman sehat, tetapi juga menyampaikan cerita, membangun koneksi, dan menjadi pengingat bahwa tradisi tak boleh punah ditelan zaman.

"Pesan saya untuk perempuan di luar sana, saya berharap mereka terus maju, berkarya, dan tidak pantang menyerah dengan keadaan," ucapnya sebelum perlahan kembali mengayuh sepedanya, meninggalkan Balai Pauh Janggi dengan semerbak rempah dan pesan abadi dari masa lalu. ***