MILAN -- Negara-negara Uni Eropa membatasi penggunaan vaksin Covid-19 Astrazeneca di tengah kekhawatiran pembekuan darah langka dan saat persediaan vaksin lebih banyak.

Dikutip dari Republika.co.id, Kepala Satgas Covid-19 Regulator Obat Uni Eropa, Marco Cavaleri, mengungkapkan hal itu kepada surat kabar Italia La Stampa, Ahad (13/6/2021).   

Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) menganggap suntikan Astrazeneca aman bagi semua kalangan usia. Namun, sejumlah negara anggota Uni Eropa menghentikan pemberian vaksin tersebut kepada orang di bawah usia tertentu, terutama di kalangan kaum muda, akibat kasus pembekuan darah langka.

''Dalam konteks pandemi, posisi kami adalah bahwa rasio risiko-manfaat tetap menguntungkan untuk semua kelompok usia,'' kata ketua Satgas Covid-19 Uni Eropa, Marco Cavaleri. 

Lanjut Marco Cavaleri, saat jumlah kasus Covid-19 menurun dan dengan mempertimbangkan bahwa populasi yang lebih muda kurang berisiko terinfeksi Covid-19, akan lebih baik menggunakan vaksin Covid-19 berdasarkan teknologi messenger RNA (mRNA), seperti vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech.

Ditanya apakah otoritas kesehatan harus menghindari pemberian vaksin Astrazeneca? ''Ya, dan banyak negara, seperti Prancis dan Jerman, mempertimbangkannya mengingat ketersediaan vaksin mRNA yang lebih banyak,'' jawab Marco.

Pemerintah Italia pada Jumat (11/6) mengatakan akan membatasi penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca, setelah seorang remaja penerima vaksin tersebut meninggal akibat pembekuan darah langka.

Seperti banyak negara Eropa, Italia langsung menghentikan vaksinasi dosis AstraZeneca pada Maret atas kekhawatiran kasus langka pembekuan darah.

Vaksin digunakan kembali pada bulan berikutnya dengan rekomendasi bahwa produk tersebut ''lebih disukai'' digunakan untuk orang di atas usia 60 tahun, setelah EMA mengatakan khasiat vaksin lebih besar ketimbang risikonya.***