
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau Mawardi Arsyad mengatakan, kenaikan harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji 3 kilogram menjadi Rp18 ribu pertabungnya diyakini akan menimbulkan inflasi terutama dalam sektor perumahan, air dan listrik yang serta merta akan menambah beban masyarakat, khususnya ekonomi lemah. Mereka semakin "menjerit", akibat kenaikan HET elpiji 3 kg tersebut.
"Yang merasakan dampaknya tentu masyarakat ekonomi lemah, hingga dua bulan mendatang," kata Mawardi kepada GoRiau.com, Senin (2/11/2015).
Jika terjadi inflasi atau kenaikan harga pada gas dan bahan bakar, lanjut Mawardi, maka akan turut berpengaruh pada tingkat harga bahan pokok makanan dan makanan jadi.
"Bahan pokok makanan dan makanan jadi tentu memerlukan gas dan bahan bakar untuk mengolahnya. Dengan demikian harga bahan makanan ataupun makanan jadi pasti akan turut naik," ucapnya.
Kenaikan HET gas elpiji 3 kg ditengah-tengah kesulitan ekonomi dirasa akan menyulitkan masyarakat. Selama bulan Oktober 2015, sektor perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,47 persen. Pada sektor ini terjadi peningkatan besar pada bahan bakar, penerangan dan air.rat