PEKANBARU, GORIAU.COM - Jemaah Calon Haji (JCH) asal Provinsi Riau yang berangkat menunaikan ibadah ke tanah suci diingatkan untuk mewaspadai penularan virus Corona yang saat ini mewabah di Arab Saudi. Namun demikian, para JCH jangan khawatir karena sudah mendapat vaksinasi.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau Tarmizi Tohor kepada wartawan akhir pekan, Jumat (28/9) mengatakan, meningkatkan kewaspadaan harus dilakukan akibat penularan virus sedang merebak itu harus dilakukannya para JCH.

''Meski begitu, para JCH asal Riau juga tidak perlu khawatir sebab sesuai ketentuan setiap JCH yang diberangkatkan menunai ibadah ke tanah suci, sebelumnya itu terlebih dahulu mendapatkan vaksinasi meningitis dan influenza. Tentu ini sesuai dengan surat Dinkes,'' kata Tarmizi.

Sebab sambung Tarmizi, sesuai surat Dinkes yang mengintruksikan untuk tingkat kewaspadaan terhadap virus corona. Sebab virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia. Kendati itu sebahagian besar dalam bentuk sangat ringan.

Dikesempatan itu, Tarmizi juga menghimbau JCH sebagai persiapan untuk berjaga dan menghindari hal yang tidak diinginkan. ''Diharapkan untuk senantiasa menjaga kebersihan, mengkonsumsi makanan yang higienis dan pakai masker. InsyaAllah terhindar dari virus,'' katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan munculnya virus corona yang menyerang dua orang di kawasan Timur Tengah tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

''Hingga kini belum ditemukan penularan dari kedua korban itu kepada kontak di sekitarnya. Semua pihak sekarang sedang memantau ketat, dan tidak perlu ada kekawatiran berlebihan karena semua masih dalam penanganan seksama," kata Tjandra di Jakarta, Selasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan mengenai kasus virus yang mirip SARS (severe acute respiratory syndrome) dan menimbulkan penyakit mirip SARS tersebut pada hari Minggu (23/9/2012) lalu yang menelan korban satu orang meninggal dan satu orang masih dirawat di rumah sakit.

Kasus pertama ditemukan adalah warga Saudi Arabia berusia 60 tahun yang meninggal dengan pneumonia dan kasus ke dua adalah warga negara Qatar berusia 49 tahun yang sakit setelah melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, keduanya menunjukkan diserang oleh corona virus.

Dari penelitian ditemukan virus corona pasien kedua 95% identik dengan kasus pertama dan kasus kedua itu kini masih dirawat di London dengan gagal napas dan gagal ginjal.

''Virus corona adalah penyebab infeksi saluran napas pada manusia, sebagian besar dalam bentuk yang amat ringan, walau memang ada bentuk yang berat dan menimbulkan kematian, yaitu SARS-corona virus. Tapi virus yang ditemukan pada dua kasus di atas bukan SARS-corona virus, sehingga penyakit yang disebabkannya juga tidak terlalu tepat diberi nama SARS,'' kata Tjandra.

Untuk sementara virus tersebut dinamakan "virus yang mirip SARS" dan penyakitnya disebut "penyakit seperti SARS" dan untuk memastikan analisa virus selanjutnya saat ini sedang dilakukan Analisa virus "complete genome" dan menyuntikkan virus itu ke binatang percobaan dan kemudian lihat apa akibat yang terjadi pada binatang itu.

"Ini yang disebut sebagai 'Postulat Koch' untuk memastikan virus adalah penyebab penyakit, karena ditemukannya virus pada tubuh manusia belum tentu 100 persen menjamin bahwa virus itu adalah penyebab penyakitnya," kata Tjandra.

Pihak kesehatan negara setempat dikatakan Tjandra telah mengamati semua kontak terhadap dua kasus diatas dan sejauh ini dinyatakan tidak ada penularan, termasuk kepada seluruh petugas kesehatan yang menangani kedua kasus.

''Sampai hari ini tidak ada satu orang petugas kesehatan pun yang tertular sakit, artinya sejauh data sampai hari ini, virus corona ini tidak terbukti menular antar manusia,'' kata Tjandra.

Hal itu berbeda dengan jenis virus corona yang pada tahun 2002 menimbulkan SARS dengan angka penularan cukup tinggi dan telah menewaskan ratusan orang di 30 negara.

Dengan adanya kasus tersebut, Tjandra mengatakan ia telah melakukan kontak langsung dengan Deputi Director General WHO Keiji Fukuda di Jenewa, Swiss dan Kementerian Kesehatan Arab Saudi yang diduga sebagai tempat penularan kedua korban.

''Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyatakan bahwa kasus ini sangat jarang. Mereka juga menyatakan bahwa pada saat musim haji ini masyarakat diminta melakukan pencegahan seperlunya, meningkatkan kebersihan pribadi, kebersihan tangan dan menggunakan masker pada kawasan yang padat,'' kata Tjandra.

Sementara itu, dengan masih sangat terbatasnya data dari Inggris dan Arab Saudi, markas besar WHO di Swiss memberikan anjuran umum bagi masyarakat untuk meningkatkan kebersihan, peningkatan surveilans kesehatan yang definisi kasusnya masih disusun WHO dalam dua hari kedepan.

"Untuk saat ini belum ada larangan bepergian dari WHO ke negara manapun," kata Tjandra.

Sedangkan mengenai antisipasi penularan pada jamaah haji yang telah berdatangan ke Arab Saudi, Tjandra mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan petugas-petudas kesehatan Haji dan memberikan arahan yang diperlukan.

"Tim kesehatan kita di Arab Saudi juga terus berkoordinasi dengan aparat kesehatan setempat dan terus mempersiapkan diri dengan upaya penyuluhan ke masyarakat untuk kebersihan pribadi, cuci tangan, menjaga kesehatan, pencegahan dan penanganan yang diperlukan," ujarnya.

Kementerian Kesehatan juga telah melakukan sosialisasi bagi antisipasi virus tersebut kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) agar melakukan surveilans bagi kasus serupa. (rdc/bic/ant)