SELATPANJANG, GORIAU.COM - Salah seorang warga Selatpanjang yang enggan menyebutkan namanya bercerita perihal kematian bayi kembar yang merupakan anak pertamanya itu. Kematin dua bayi laki-laki itu setelah dikandung istrinya sekitar 35 minggu.

Kematian kedua bayi kembar ini pun menyisakan banyak pertanyaan.Warga Selatpanjang itu, kepada wartawan, Senin (9/3/2015) menceritakan bahwa, Senin (2/3/2015) kemarin, istrinya yang sedang hamil sekitar 35 minggu itu mengalami pecah ketuban saat berada di tempat dia bekerja. Kemudian Ia membawa istrinya ke klinik Sundari yang terletak di Jalan Imam Bonjol Selatpanjang untuk memeriksakan kondisinya kandungan.Di klinik tersebut pasien ditangani oleh salah seorang dokter kandungan di sana. Menurut dokter, kondisi pasien baik-baik saja lalu disuruh istirahat di rumah. "Bahkan dia (dokter, red) bilang kalau memang sanggup bekerja, silahkan aja," cerita suami pasien. Meski sempat panik dan tegang atas kondisi istrinya, namun penjelasan dokter cukup menenangkan hatinya. Pasien yang mengandung anak pertama itu lalu pulang dan beristirahat di rumah. Kemudian, pada Kamis (5/3/2015) malam, pasien merasakan bayi di dalam kandungannya sudah tidak bergerak. Kemudian keesokan harinya Jumat (6/3/2015), ibu hamil itu bersama sang suami kembali ke klinik Sundari untuk memeriksakan kandungannya. "Baru dari sana istri langsung dirujuk ke RSUD untuk penanganan, di sana saya tau kalau anak kembar saya yang di dalam kandungan istri sudah tidak bernyawa," tuturnya dengan nada sedih. Ia melanjutkan, saat di rumah sakit istrinya diberi obat perangsang untuk mengeluarkan bayi. Namun hingga Sabtu (7/3/2015) atau hari ke lima setelah pecah ketuban istrinya belum juga melahirkan, sehingga diambil tindakan operasi. "Memang semua itu kehendak Tuhan, kami maklumi. Hanya saja kita kesal dengan penanganan dan diagnosa di klinik Sundari yang tidak hati-hati dan sembarangan," keluhnya. Ia berharap ada perubahan atau teguran dari pihak-pihak terkait terkait standar operasional di klinik tersebut, agar tidak dialami juga oleh calon orang tua yang lain. "Biarlah bayi kembar kami yang jadi pelajaran, asalkan tidak bayi-bayi lain yang mengalaminya," tutur ayah bayi laki-laki kembar yang dinamakan Muhamad Al Fatah (alm) dan Muhamad At Thariq (alm) itu.Pemilik Klinik Umum dan Apotek Sundari, ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/3/2015) siang membenarkan bahwa ada pasien yang waktu itu memeriksa kandungan karena sempat mengeluarkan air (semacam air ketuban, red). Namun, kata Sundari pula, sewaktu dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Lakmus, didapati bahwa pasien tersebut belum siap untuk melahirkan. Apalagi, tambah Sundari, diperkirakan pasien tersebut akan melahir pada akhir Maret 2015 mendatang."Saat kita check, air (ketbuan) nya masih banyak, masih bagus, kita lihat menggunakan lakmus negatif. Kita cek urine, protein urine nya negatif, check hb 11 gram persen," kata Sundari menjelaskan kenapa waktu itu pasien belum pas waktunya untuk melahirkan.Setelah itu, lanjut Sundari, pada Selasa (3/3/2015) suami pasien datang untuk meminta hasil labor (hasil pemeriksaan pada Senin lalu itu). Setelah suami pasien tiba di klinik, Sundari mengaku Ia sempat bertanya apakah istri lelaki tersebut masih mengeluarkan air ketuban. Namun, waktu itu dijawab suami pasien bahwa istrinya tidak lagi mengeluarkan air."Waktu itu katanya bagus, tidak ada lagi keluar airnya," ujar Sundari pula.Namun, diceritakan Sundari lagi, pada Jumat (6/3/2015) pagi, pasien bersama suami kembali datang ke Kliniknya. Waktu itu pasien mengatakan bahwa anaknya sudah tidak ada gerakan lagi. Waktu itu Sundari mengaku bertanya kepada pasien kapan mulai anak di kandungannya tidak bergerak, dan pasien menjawab sejak Kamis (5/3/2015) malam. Mendengar jawaban itu, Sundari kaget dan setelah diperiksa maka didapati bahwa bayi di dalam kandungan itu telah meninggal dunia."Waktu itu saya langsung membuat surat rujukan dengan harapan satu bayinya masih bisa diselamatkan. Lalu, Jumat  itu juga Ia mau berangkat ke Pekanbaru pukul 09.00 WIB, namun ketinggalan kapal, dia mau berangkat pukul 11.00 WIB, saya menyarankan agar dia ke RSUD untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah saya berkonsultasi dengan pihak RSUD didapatilah bahwa kedua anak yang di kandungan itu sudah tidak bernyawa lagi," kata Sundari menjelaskan.Lebih jauh Sundari menjelaskan, meski Jumat itu telah diketahui bahwa anak di dalam kandungan pasien sudah meninggal dunia, namun pihak dokter di RSUD belum mau mengoperasi cesar sebab, cesar bisa membuat pasien baru boleh hamil dengan waktu yang agak lama sekitar 2 tahun (setelah operasi, red). "Waktu itu dokter bilang, karena sudah tidak ada (bayinya sudah meninggal) jangan sampai perutnya disobek-sobek (cesar). Sebab kalau dikeluarkan secara normal, pasien bisa langsung hamil tidak perlu menunggu waktu bertahun, kemudian diberikan obat perangsang. Hingga Sabtu (7/3/2015) pasien tidak juga melahirkan, akhirnya pihak keluarga meminta agar dilakukan operasi, maka terjadilah cesar untuk mengeluarkan kedua bayi kembar yang sudah meninggal itu," ujar Sundari lagi.(zal)