SELATPANJANG, GORIAU.COM - Warga Kepulauan Meranti, Riau kini mulai gelisah. Pasalnya, sudah dua bulan daerah kepulauan ini tidak merasakan sejuknya air hujan. Dampak yang sangat dirasakan adalah sulitnya air bersih dan seringnya terjadi kebakaran lahan. Berdasarkan catatan, dua bulan musim kemarau, beberapa kawasan dilanda kebakaran, bahkan dalam satu minggu sudah terjadi dua kali kebakaran lahan.

Di daerah Mengkikip dan Kampung Balak, contohnya, kebakaran lahan sudah mencapai areal yang sangat luas. Tak ayal kebun karet warga yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat turut dilalap si jago merah. Apalagi areal tersebut merupakan lahan gambut yang disaat musim kemarau sangat mudah terbakar.

Kepala Desa Mengkikip Tarmizi kepada wartawan lewat ponselnya mengatakan, pihaknya sudah tidak mampu lagi mengatasi bencana api yang sudah melahab seratusan hektar kebun masyarakat itu. Seluruh tenaga masyarakat sudah dikerahkan untuk memadamkan api itu, namun karena air pun sulit didapatkan, serta medan yang sulit ditempuh, membuat api terus merajalela melahab apa saja yang dihadapannya.

''Kita berharap ada kebijakan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk menangani kebakaran lahan ini. Sebab jika masih menggunakan pemadaman secara manual, dipastikan tidak akan berhasil. Dalam kondisi seperti ini kata Tarmizi lagi, butuh helikopter untuk melakukan penyiraman air. Jika itu tidak dilakukan, jangankan lahan perkebunan masyarakat yang akan habis, Pulau Tebingtinggi Barat itu pun bisa terancam,'' ungkapnya lagi.

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti H Masrul Kasmy saat dikonfirmasi mengatakan untuk sementara kekuatan lokal harus dioptimalkan, pihak kecamatan membantu masyarakat guna mengerahkan tenaga pemadaman itu. (kpt)