PEKANBARU – Polemik penataan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Riau kembali mendapat sorotan. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau (Fisipol UIR), Agung Wicaksono, menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam menertibkan kawasan tersebut.

"Penertiban kawasan TNTN, termasuk pembentukan Satgas Penataan Kawasan adalah bentuk relokasi sosial-ekologis untuk memulihkan fungsi ekologis yang vital," ujarnya, Sabtu (21/6/2025).

Ia menegaskan, pemukiman ilegal yang terus berkembang di kawasan konservasi akan mengancam kelangsungan habitat penting. Oleh sebab itu, penataan ruang dan relokasi masyarakat menjadi langkah yang tidak bisa ditawar lagi.

Lebih lanjut, Agung juga menyoroti keterlibatan korporasi yang melakukan aktivitas ilegal di dalam kawasan TNTN. Ia mendesak agar pemerintah tidak hanya berhenti pada sanksi administratif.

"Korporasi yang menjarah kawasan TNTN secara ilegal harus ditindak secara hukum, agar terlihat bahwa bangsa ini berdaulat dan tidak tunduk pada kepentingan modal," tegasnya.

Agung berharap, pemerintah pusat dan daerah memanfaatkan momentum ini untuk membangun sistem konservasi yang adil, transparan, dan berkelanjutan. Menurutnya, pelibatan semua pihak, mulai dari masyarakat lokal, akademisi hingga LSM lingkungan, sangat penting dalam upaya tersebut.

"Tesso Nilo adalah simbol. Kalau kita gagal di sini, maka kita gagal menunjukkan bahwa negara bisa hadir dan berpihak pada lingkungan dan rakyat sekaligus," pungkasnya. ***