JAKARTA - Anggota parlemen senior Iran, Ebrahim Azizi melontarkan peringatan keras kepada Ukraina pascaserangan drone di Laut Kaspia. Insiden yang menargetkan kapal komersial Teheran tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang.

Peringatan ini tidak hanya ditujukan bagi Kyiv, melainkan juga Amerika Serikat (AS) dan Israel yang belakangan terlibat konflik dengan Iran. Melalui media sosial X, Minggu (26/7), Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran itu memastikan akan ada konsekuensi atas tindakan militer tersebut.

"Setiap serangan terhadap Iran selalu ada harganya, dan hal itu masih berlaku hingga saat ini," tegasnya.

Azizi menilai otoritas Ukraina akan segera menyadari bahwa negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi agresi di jalur pelayaran komersial.

"Daftar pihak yang salah perhitungan terus bertambah!" tambahnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi turut merespons insiden tersebut dengan menyoroti operasi militer Ukraina. Ia menuding serangan terhadap kapal komersial itu menyalahi aturan internasional dan menuduh adanya campur tangan pihak lain.

"Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB, yang dilakukan atas perintah Israel untuk menyeret Eropa ke dalam perangnya," terangnya.

Araghchi mengaku telah mendiskusikan masalah ini melalui sambungan telepon secara terpisah dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.

"Dalam pembicaraan dengan Perwakilan Tinggi UE Kallas dan Menlu Lavrov, ditegaskan bahwa tindakan 'si parasit' di Kyiv itu tidak bisa dibiarkan tanpa balasan," tandasnya.

Sebagai bentuk protes resmi, pemerintah Iran telah memanggil utusan diplomatik Ukraina di Teheran, Sabtu (25/7).

Hari yang sama, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky membenarkan adanya serangan jarak jauh di perairan Kaspia melalui platform X. Ia mengklaim operasi militer itu membuahkan hasil kuat dengan menyasar kapal-kapal yang memuat kargo militer beserta sebuah kapal perang.***