ADA sebuah pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi patut direnungkan. Apakah karena ada sebagian akademisi dari kampus yang selama ini sering memberikan kritik terhadap kebijakan Pemko Pekanbaru, lalu suara mereka menjadi kurang nyaman untuk didengar?

Saya berharap jawabannya tentu tidak. Sebab pemerintah yang percaya diri seharusnya tidak takut dengan kritik. Bahkan sebaliknya, pemerintah semestinya mencari orang-orang yang berani mengkritik kebijakannya. Sebab pujian itu menyenangkan, tetapi kritik yang argumentatif sering kali lebih menyelamatkan.

Kami yang berada di luar birokrasi memang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Tetapi kami memiliki kewajiban moral untuk mengingatkan ketika melihat sesuatu yang menurut kami kurang tepat. Kami tidak membawa kepentingan proyek. Kami tidak sedang mengejar jabatan. Kami tidak sedang mencari ruang di dalam birokrasi. Kami hanya ingin Pekanbaru tumbuh menjadi kota yang tertata, manusiawi, berkelanjutan, dan tidak meninggalkan masalah besar untuk anak cucu.

Karena itu, kalau ada forum lanjutan konsultasi publik RTRW Pekanbaru, undanglah lebih banyak suara yang berbeda. Jangan hanya mengundang mereka yang dekat dengan meja kekuasaan. Undang juga mereka yang selama ini berdiri di luar meja itu dan berani mengatakan: "Pak, ini mungkin tidak tepat."

Pekanbaru Tidak Boleh Dirancang oleh Satu Kelompok

Kota adalah milik semua. Pemerintah memang memiliki kewenangan. Pengembang memiliki investasi. Pelaku usaha memiliki kepentingan ekonomi. Masyarakat memiliki hak atas lingkungan yang baik. Akademisi memiliki tanggung jawab keilmuan. Tokoh adat memiliki perspektif budaya. Profesional memiliki keahlian teknis. Dan generasi muda memiliki masa depan yang akan diwariskan oleh keputusan kita hari ini. Semua harus dipertemukan.

Sebab tata ruang yang baik bukan tata ruang yang paling indah di atas kertas. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang mampu bekerja ketika berhadapan dengan kenyataan. Kenyataan kemacetan. Kenyataan banjir. Kenyataan pertumbuhan permukiman. Kenyataan kebutuhan transportasi publik. Kenyataan tekanan investasi. Kenyataan kebutuhan ruang terbuka hijau. Kenyataan persoalan sampah. Kenyataan ketimpangan antarwilayah. Dan yang paling penting, kenyataan bahwa manusia membutuhkan ruang kota yang layak untuk hidup.

Pemerintah Harus Berhati Lapang

Karena itu, saya berharap Pemerintah Kota Pekanbaru berlapang dada menerima masukan dari siapa pun. Termasuk masukan yang keras. Termasuk kritik yang kadang terasa pahit. Termasuk suara dari kampus yang selama ini mungkin dianggap terlalu sering mengkritisi kebijakan pemerintah.

Sebab pemerintah yang besar bukan pemerintah yang selalu dipuji. Pemerintah yang besar adalah pemerintah yang mampu mendengar kritik tanpa merasa direndahkan oleh kritik itu. Dan akademisi yang baik juga bukan akademisi yang selalu merasa paling benar. Ia harus siap menyampaikan argumentasi berdasarkan data, membuka ruang dialog, dan menerima koreksi. Di situlah demokrasi perencanaan bekerja.

Dua Puluh Tahun Jangan Diputuskan dalam Dua Jam

Kita sedang berbicara tentang Pekanbaru 20 tahun ke depan. Anak-anak yang hari ini masih duduk di sekolah dasar kelak akan menjadi orang dewasa yang menikmati atau menanggung akibat dari RTRW yang kita susun sekarang.

Karena itu, jangan terburu-buru. Jangan menjadikan konsultasi publik sekadar formalitas. Jangan pula membatasi partisipasi hanya kepada mereka yang sudah berada dalam daftar undangan. Buka pintu seluas-luasnya. Libatkan masyarakat. Libatkan generasi muda. Dan, tentu saja, libatkan pula para pengkritik pemerintah. Sebab mereka bukan musuh pembangunan. Bisa jadi, merekalah yang sedang membantu pemerintah menemukan titik lemah sebelum titik lemah itu berubah menjadi persoalan besar.

Pekanbaru 20 tahun ke depan membutuhkan keberanian untuk merencanakan. Tetapi lebih dari itu, Pekanbaru membutuhkan kerendahan hati untuk mendengar. Jangan hanya membangun kota dengan beton dan jalan. Bangun pula tradisi dialog. Bangun tradisi kritik. Bangun tradisi ilmiah. Bangun tradisi keterbukaan.

Sebab pada akhirnya, RTRW bukan hanya tentang di mana kita membangun. RTRW adalah tentang kota seperti apa yang ingin kita wariskan. Dan kota masa depan yang baik tidak lahir dari suara yang seragam. Ia lahir dari keberanian mempertemukan banyak suara—termasuk suara yang berbeda, suara yang kritis, dan suara yang kadang tidak nyaman didengar.

Semoga Pemko Pekanbaru berhati lapang. Karena membangun kota bukan hanya membutuhkan anggaran dan kekuasaan, tetapi juga kesediaan untuk mendengar mereka yang berani berkata benar. ***

Mardianto Manan adalah Akademisi.