PEKANBARU – Map berisi curriculum vitae dan puluhan stan perusahaan itu memadati Atrium Siak Mal SKA Pekanbaru, Rabu (17/6/2026). Di antara antrean panjang yang mengular di depan stan perusahaan, mayoritas wajah yang hadir berasal dari generasi Z yang tengah berburu kesempatan kerja.

Pekanbaru Job Fair 2026 yang digelar Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Tenaga Kerja itu menghadirkan puluhan perusahaan dengan total 1.289 lowongan pekerjaan. Namun di balik ramainya bursa kerja tersebut, tersimpan kenyataan yang dihadapi banyak anak muda saat ini: mencari pekerjaan semakin sulit.

Muhammad Fikri Sutoni atau Toni (24) menjadi salah satu di antaranya. Lulusan Teknik Informatika Uin Suska Riau itu mengaku telah menganggur hampir satu tahun setelah menyelesaikan kuliah.

"Tujuan datang ke job fair tentu cari kerja. Selama nganggur saya lebih banyak update skill, menyesuaikan kemampuan dengan permintaan perusahaan," ujarnya kepada GoRiau.com.

Toni mengaku tertarik melamar ke sejumlah perusahaan yang membuka posisi administrasi, quality control hingga IT support. Menurutnya, posisi tersebut masih sejalan dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mencari lowongan, melainkan memenuhi syarat yang ditetapkan perusahaan.

"Susah sekali cari kerja sekarang. Banyak lowongan untuk fresh graduate, tapi tetap ada batas umur. Kadang maksimal 25 tahun, ada juga yang lebih rendah. Saya sekarang 24 tahun, jadi mulai was-was juga," katanya.

Selama hampir satu tahun mencari pekerjaan, Toni memperkirakan telah mengirimkan sekitar 30 lamaran ke berbagai perusahaan. Namun belum satu pun yang berhasil membawanya pada pekerjaan tetap.

"Harapan saya lowongan pekerjaan diperbanyak lagi. Terus kalau bisa rekrutmen benar-benar berdasarkan kemampuan dan skill, bukan faktor lain. Jadi yang diterima memang orang yang sesuai dengan kebutuhannya," ujarnya.

Kisah serupa dialami Muhammad Zikra (27), lulusan ekonomi yang telah lebih dari dua tahun berstatus pencari kerja.

Sebelumnya, ia sempat diterima bekerja sebagai staf data di sebuah perusahaan pialang. Namun pekerjaan yang dijanjikan berbeda dengan tugas yang harus dijalankan sehingga ia memutuskan mengundurkan diri hanya dalam waktu sekitar satu minggu.

"Diterima sebagai staf data, tapi ternyata disuruh mencari nasabah. Jadi tidak sesuai dengan yang ditawarkan saat rekrutmen," kata alumnus Universitas Padjadjaran tersebut.

Sejak saat itu, Zikra terus mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Ia memperkirakan jumlahnya telah melebihi 20 lamaran.

"Ada yang sampai tahap berkas, ada juga yang sampai tes. Tapi belum ada yang lolos sampai diterima," ujarnya.

Menurut Zikra, sulitnya mendapatkan pekerjaan bukan hanya dialaminya seorang diri. Ia melihat banyak teman seusianya menghadapi persoalan serupa.

"Lapangan pekerjaan terasa semakin sempit. Persaingan makin ketat. Banyak perusahaan mencari yang sudah punya pengalaman dua sampai tiga tahun. Sementara fresh graduate juga butuh tempat untuk mendapatkan pengalaman itu," katanya.

Keluhan Toni dan Zikra sejalan dengan data nasional mengenai kondisi ketenagakerjaan generasi muda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok usia muda masih menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di Indonesia. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–19 tahun tercatat mencapai 23,34 persen, sedangkan kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen, jauh di atas rata-rata nasional.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia yang didominasi generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalami pengangguran saat memasuki dunia kerja.

Di sisi lain, tidak semua anak muda yang bekerja berhasil masuk ke sektor formal. BPS mencatat sekitar 59 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal. Kondisi ini membuat banyak generasi muda akhirnya bekerja sebagai pekerja lepas, pelaku usaha kecil, hingga pekerja berbasis platform digital karena sulit memperoleh pekerjaan formal yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.

Kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri atau yang dikenal sebagai skill mismatch. Selain itu, jumlah lulusan baru setiap tahun terus bertambah sementara pertumbuhan lapangan pekerjaan formal tidak meningkat dengan kecepatan yang sama.

Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa syarat pengalaman kerja masih menjadi hambatan utama bagi lulusan baru. Banyak perusahaan menginginkan pelamar yang telah memiliki pengalaman kerja minimal satu hingga tiga tahun, sementara para lulusan baru belum memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman tersebut.

Kondisi itu tidak jarang memunculkan tekanan psikologis bagi para pencari kerja muda.

"Pasti ada tekanan. Kadang lihat teman-teman sudah bekerja semua, sementara kita masih mencari kerja. Tapi ya harus tetap berusaha," kata Zikra.

Di tengah situasi tersebut, job fair menjadi salah satu ruang yang masih menyisakan harapan.

Salah satu perusahaan peserta, BCA, misalnya, membuka program Magang Bakti untuk lulusan SMA hingga sarjana. Petugas rekrutmen BCA, Putri, mengatakan perusahaan mencari kandidat yang ramah, teliti, terampil dan mampu berkomunikasi dengan baik.

"Kami menerima lulusan SMA sampai S1 dengan batas usia maksimal 25 tahun. Untuk wilayah Riau saat ini kebutuhan sekitar 10 orang. Nanti peserta yang lolos akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum ditempatkan sesuai kebutuhan," ujarnya.

Meski peluang tersedia, antrean panjang di depan stan-stan perusahaan sepanjang hari menunjukkan satu hal: jumlah pencari kerja masih jauh lebih banyak dibandingkan kesempatan yang tersedia.

Bagi Toni, Zikra, dan ratusan Gen Z lainnya yang memenuhi Mal SKA siang itu, setiap barcode yang dipindai, setiap formulir yang diisi, dan setiap lamaran yang dikirimkan adalah upaya untuk membuka pintu masa depan yang hingga kini masih mereka ketuk.

Di usia Kota Pekanbaru yang ke-242 tahun, harapan mereka terbilang sederhana: kesempatan kerja yang lebih luas dan peluang yang lebih adil bagi generasi muda untuk membangun hidup di kota tempat mereka tumbuh dan dibesarkan. ***