
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kampanye pemilihan Gubernur Riau 2013 putaran kedua, besok, Kamis (21/11/2013) dimulai. Tak banyak masyarakat yang bisa menetapkan dengan mudah siapa yang akan dipilih, Herman - Agus atau Annas - Andi, pasalnya kekuatan keduanya imbang, bahkan keduanya sama-sama tak pernah berperkara dalam masalah hukum.
Sebagai bahan pertimbangan pembaca berikut wawancara GoRiau.com dengan pengamat politik dan pemerintahan Universitas Islam Riau (UIR), Drs H Zaini Ali MSi, Rabu (20/11/2013) tentang kekuatan keduanya sebelum memasuki kampanye putaran kedua.
Menurut Zaini Ali, ada tiga variabel dalam memilih pemimpin. Pertama faktor kapabilitas (intlektualitas), untuk variabel ini ada dua poin yaitu intelektualitas, moralitas dan kepemimpinan. Untuk intelektualitas, Herman Abdullah jelas lebih tinggi karena lulusan strata 2 (S2) sedangkan Annas Maamun strata 1 (S1). Sedangkan untuk moral, keduanya imbang karena sama-sama tak pernah tersandung masalah hukum. Sedangkan untuk kepemimpinan, Herman Abdullah lebih baik karena lebih memahami pemerintahan.
''Ada persoalan pemerintahan yang dialami Annas dimana dia menolak menyetujui RTRW. Pak Annas lupa bahwa kita bukan negara federal. Kita negara kesatuan yang harus menghormati pemerintahan diatasnya. Tapi persoalan ini biasanya tak dipedulikan pemilih, Tapi kalau pemerintah daerah tak menghormati pemerintah pusat, itu tak bagus untuk hubungan dalam pemerintahan,'' ujarnya.
Variabel kedua adalah akseptabilitas atau penerimaan masyarakat. Untuk faktor kedua ini, Annas Maamun lebih disuka masyarakat. Pak Annas berani melawan pemerintah pusat. Cuma Herman dinilai juga lebih baik karena lebih santun.
Variabel ketiga adalah kompabilitas atau penyesuain diri. Untuk variabel ini harus dilihat bahwa Gubernur adalah kepala daerah sekaligus wakil pemerintah pusat di daerah. Untuk variabel ini, Herman Abdullah mungkin lebih baik. Tapi, tambahnya, untuk pemilih, bisa saja variabel ini terabaikan.
Bagaimana dengan suku atau etnis, menurut Zaini, khusus untuk Riau, faktor suku atau etnis tidak terlalu berpengaruh karena masyarakat Riau sudah berbaur dan tak ada konflik antar suku yang begitu besar. ''Faktor suku ini tak terlalu berpengaruh,'' tegasnya.
Ditegaskannya, memimpin pemerintahan tidak sama dengan memimpin parpol atau perusahaan. Karena itu dalam tataran kepemimpinan pemerintahan ditentukan oleh siapa yang punya kekuatan dalam 3 variabel tersebut.
''Jadi menurut saya, untuk kondisi jelang kampanye ini, kekuatan keduanya berimbang. Sekarang bagaimana keduanya mengemas dalam kampanye,'' urainya. ***