PEKANBARU – Sembilan puluh persen siswa SDN 195 Pekanbaru mendapatkan beasiswa. Pasalnya, hampir semua siswanya berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah sehingga membuat kepala sekolah dan guru-guru di SDN 195 Pekanbaru merasa terpanggil untuk membantu siswa-siswanya.

Kepala sekolah SDN 195 Pekanbaru, Yoyon Siswanto, SPd mengatakan, hal ini dilakukannya karena merasa terpanggil untuk membantu anak-anak yang kurang mampu untuk dapat mengenyam pendidikan dengan layak.

GoRiau Kepala dan para guru SDN 195 P
Kepala dan para guru SDN 195 Pekanbaru bersama para siswa. (ist)
“Hampir semua anak-anak yang bersekolah di sini merupakan anak etnis Nias, yang orang tuanya tidak bisa baca-tulis. Bahkan ada yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Jadi kami berusaha sebisa mungkin untuk memutus rantai ini,” katanya kepada GoRiau.com, Kamis, (25/7/2024).

Ia menjelaskan, pihaknya juga melakukan berbagai upaya agar siswa di SDN 195 Pekanbaru bisa mendapatkan bantuan beasiswa.

“Yang penting mereka punya NIK, pasti akan kami bantu untuk mendapatkan PIP. Yang tidak memiliki dokumen kependudukan, kami bantu menguruskan dokumennya, agar bisa mendaftar beasiswa,” jelasnya.

Menurutnya, kendala dalam pengurusan dokumen kependudukan ini mempunyai masalah yang beragam, mulai dari pergantian nama orang tua, dokumen dibawa calo, hingga orang tua tidak memiliki kartu identitas apapun.

“Banyak orang tuanya yang datanya bermasalah, ada yang memang tidak ada surat sama sekali, dokumennya dibawa kabur calo saat ngurus perpindahan dari Bangkinang ke Siak, ada yang nama orang tuanya berbeda saat di Nias dan di Pekanbaru. Tapi kami upayakan untuk mengatasi hal ini dengan bekerjasama dengan RT/RW setempat, yang penting anak ini bisa sekolah,” terangnya.

Bahkan, setiap pencairan beasiswa, guru-guru juga turut andil dalam mengedukasi dan mengurus berkas orang tua agar beasiswa tersebut dapat tersalurkan dengan baik.

“Biasanya kalau beasiswanya sudah cair, kami akan mengumpulkan orang tua ini untuk di edukasi, uangnya dipakai untuk keperluan sekolah anak, jangan untuk hal lain. Kan lumayan bisa dibelikan tas, buku, maupun sepatu anak kita,” ungkapnya.

Sebagai kepala sekolah, ia juga mengaku melarang para guru untuk mendampingi orang tua dalam mencairkan beasiswa ke bank.

“Di rapat orang tua itu nanti guru kita bantu ngurusin file yang harus dibawa, dikumpulkan, lalu diberikan ke orang tua biar gampang saat dibawa ke bank. Kadang kalau rapat ini sampai harus ada penerjemah biar tidak terjadi miskomunikasi antara pihak sekolah dengan wali murid. Tapi saya melarang keras guru sampai mendampingi mereka pencairan ke bank, takutnya nanti menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. ***