PEKANBARU – Pilkada serentak tahun 2024 di Riau sebentar lagi akan dimulai, sejumlah nama-nama ketua Parpol dan figur lainnya yang berpeluang untuk diusung sebagai Calon Gubernur (Cagub) Riau mulai bermunculan.

Berdasarkan analisa pengamat politik dari Universitas Islam Riau (UIR), Dr Panca Setya Prihatin, figur yang berpeluang ikut kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Riau, dapat dilihat dari tiga indikator yang dapat dijadikan rujukan seperti dengan membaca hasil Pemilu Legislatif (Pileg) pada 14 Februari lalu, kemudian kedudukan Cagub di dalam Partai Politik (Parpol) dan terakhir dari aspek popularitasnya.

"Berkaca dari hasil Pileg lalu, maka nama Syamsuar tetap akan menjadi calon kuat dari partai Golkar, kecuali sebelum pendaftaran ke KPU terjadi pengambil alihan ketua partai Golkar disebabkan gagalnya Golkar mempertahankan hasil Pemilu sebagai partai pemenang pemilu di Riau dan banyaknya kekalahan calon bupati dan walikota dalam pilkada lalu," kata Panca kepada GoRiau.com, Sabtu (16/3/2024).

Kemudian jelas Panca, dari hasil Pileg juga ada nama seperti Abdul Wahid, selain meraih suara cukup besar di dapil Riau 2 dan Wahid saat ini juga berposisi sebagai ketua DPW Partai PKB Riau dan di kalangan pemilih milenial dan gen Z kehadiran Wahid cukup mendapat perhatian,

"Hanya saja untuk mendapatkan tiket Cagub Riau, Wahid tentu harus melakukan komunikasi politik dengan parpol lain untuk mencukupi syarat 20 persen dukungan suara partai atau koalisi partai politik.

Nama Zukri Misran menurut Panca juga tidak bisa dianggap enteng, karena Zukri hari ini masih menjabat Bupati Pelalawan dan ketua DPD PDIP Riau dan di Pemilu 2024 ini Zukri mampu mengantarkan PDIP jadi partai pemenang Pemilu di Riau untuk pertama kali dalam sejarah Pemilu pasca reformasi.

Nama-nama lain lanjut Panca seperti Syahrul Aidi juga sangat kuat khususnya di basis Riau 2 yang selama beberapa tahun ini dibinanya secara sungguh-sungguh, termasuk nama Edi Natar Nasution juga Achmad (mantan bupati Rohul),

"Saya kira figur-figur ini akan menjadi kompatriat yang akan dilirik Parpol, walaupun tidak menduduki jabatan ketua partai, setidaknya pengalaman sebagai wakil gubernur dan bagi Achmad saat ini sebagai anggota DPR RI manuver politik nya ke pusat tidak diragukan lagi seperti pilkada beberapa waktu lalu dimana dia bisa menggunakan partai Demokrat sebagai perahu untuk berlayar, padahal waktu itu ketua Demokrat Riau dipegang oleh Mambang Mit," ujarnya.

Edi Natar sambung Panca walaupun hanya beberapa beberapa bulan menjadi Gubernur Riau, tentu berbekal kekuasaan birokrasi pemerintahan sudah terbangun kantong- kantong basis yang banyak. Tetapi apapun itu konstelasi politik terus bergerak dinamis dan analisis ini menjadi semacam indikator untuk menyelaminya lebih dalam

"Tentu kita berharap bahwa Parpol dengan serius melakukan upaya penjaringan dengan memenuhi kriteria diatas agar kedepan Provinsi Riau tidak saja bicara tentang siapa gubernur nya tapi apa yang gubernur bisa perbuat untuk Provinsi Riau yang sejahtera," tutupnya. ***