
PEKANBARU, GORIAU.COM - Tidak hanya minim fasilitas, perlengkapan, alat keamanan serta pertahanan, pos Angkatan Laut (AL) yang menjadi simbol penjaga wilayah terdepan Indonesia di Pulau Jemur Rohil, juga tidak memiliki tempat hiburan, bahkan tidak memiliki signal telekomunikasi. Ini membuat para personil yang jauh dari keluarga, harus ikhlas menjalani tugas negara tersebut.
"Dengan beban tugas sebagai penjaga keamanan terdepan Indonesia dari berbagai potensi dan gangguan, ini tentunya menjadi semakin berat. Sehari-hari kami menjalani kehidupan dengan serba keterbatasan. Bahkan disini tidak ada signal telepon," kisah Letda Laut (P) Bagus Mondro Murti, selaku Komandan Pos Angkatan Laut (AL) yang bertugas di Pulau Jemur.
Goriau.com yang menelusuri hingga ke Pulau Jemur, melihat fakta mencengangkan itu. Disini Komandan Pos AL dan beberapa anggotanya harus putar otak mencari kegiatan. Disela-sela tanggungjawab memantau semua aktifitas kapal, Murti dan anggota juga berkebun dan memancing. "Hasilnya bisa kami jadikan alternatif bila stok logistik habis di pulau, lumayan untuk mengisi kekosongan," terangnya.
Yang lebih mirisnya, Pulau Jemur ternyata tidak tersentuh alat komunikasi. Tidak ada signal telepon dan tidak ada chanel televisi. Ini membuat mereka tidak bisa menghubungi keluarga atau mendapat informasi dunia luar. "Tentu kangen, bisa telepon kalau sudah ke darat (Panipahan,red). Kalau tidak ya ditahan, namanya tugas negara," pilunya.
Lalu jika cuaca memburuk dan stok logistik terputus, ia dan anggota harus memancing ikan dan mencari kerang bersama para nelayan yang kapalnya berlabuh di pulau Jemur. "Kita survival, apa yang bisa dimakan kita makan, kalau cuaca buruk bisa mundur sehari dua hari dan makan seadanya," ungkapnya.
Bagi sang Komandan, keadaan yang ia alami saat bertugas merupakan pengorbanan dan panggilan tugas. Walau tak jarang banyak pejabat yang datang berkunjung, namun hanya sebatas rekreasi dan memberi janji. "Ada beberapa pejabat kesini, mendengar keluh kesah kami, tapi sampai kini belum ada realisasi," yakinnya.
Menurut pandangan Letnan Dua ini, hal terpenting yang harus disegerakan adalah penempatan sarana komunikasi praktis berupa signal telepon seluler. Berasalan, mengingat dengan adanya dukungan itu, setiap nelayan yang mencari nafkah di perairan, bisa menjadikan ponsel sebagai sarana komunikasi dengan pos AL.
Bahkan dengan adanya signal, sambungnya, pelancong akan lebih tertarik untuk singgah sejenak dan menikmati pemandangan indah di Pulau Jemur. "Ada orang datang kesini tapi hanya sebentar, karena tak ada signal, jadi putus hubungan dengan dunia luar," pungkasnya berbincang dengan Goriau.com. (had)