
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Sebentar lagi, hari besar Imlek 2565 atau bertepatan 31 Januari 2014 diperingati. Setidaknya ada 3 makna yang terkandung dalam Imlek yaitu makna spiritual dan psikologis, makna sosial kemasyarakatan, dan makna ganda.
Sebagaimana yang dijelaskan Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Kepulauan Meranti, Grace SAg, ketika ditemui GoRiau.com, belum lama ini di Kantornya jalan Imam Bonjol Selatpanjang.
Grace menjelaskan, makna spiritual dan psikologis, di momen pergantian tahun baru Imlek ini secara spiritual dan psikologis, masyarakat tionghoa yang merayakannya selalu memulai dengan berbagai ritual, seperti pembersihan rumah dan semua peralatan, mempersiapkan kebersihan jiwa dan raga untuk menyambut nuansa kebahagiaan yang serba baru dengan spirit baru. Musik dan lantunan lagu tahunan Guo Xin Nian atau Da Di Hui Chun mulai didengarkan dimana-mana.
Kegiatan Chu yi dengan bersyukur berbaktu puja (sembahyang), berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha, Bodhisatva dan Dewa, melaksanakan sikap berbakti pada orang tua, senantiasa intropeksi dan refleksi diri, memperbaharui diri. Semakin meningkatkan keyakinan/keimanan, kesusilaan, kemurahan hati dan kebijaksanaan, sikap tahu bersyukur ini akan meningkatkan kualitas, berkah hidup seseorang dan penuh sukacita, optimis menuju hidup yang lebih maju, damai dan sejahtera.
"Kegiatan menyambut imlek ini secara psikologis akan dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa tanpa memandang apa keyakinannya, baik di Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Singapore, Malaysia, Thailand, termasuk Indonesia dan negara lainnya yang berkomunitas Tionghoa. Mazhab Buddha Mahayana juga merayakan tanggal 1 bulan 1 Imlek (zheng yue chu yi) sebagai hari Kelahiran Buddha Maitreya (Mi Le Fo) yang dikenal Buddha Cinta Kasih," kata Grace kepada GoRiau.com.
Disampaikan Grace lagi, makna sosial kemasyarakatan dari Imlek adalah sebagai semangat memperbaharui diri, meningkatkan rasa kekeluargaan serta kebersamaan. Sebagai Warga Negara Indonesia yang asli, menurut UU RI Nomor 12 tahun 2006 tentangkewarga negaraan republik Indonesia.
"Sekarang sudah waktunya seluruh komponen bangsa untuk bangkit bersama bersatu mengatasi krisis yang kita alami di negara ini, tanpa melihat asal usul, golongan tertentu akan tetapi dengan melihat suatu fenomena sebagai anak bangsa yang sedang mengalami kesusahan bersama sebagai saudara sebangsa dan se tanah air. Khong Hu Cu berkata bahwa membedakan manusia, tidak ada seorangpun yang diistimewakan dan tidak ada suatu kaum yang ditinggikan di atas yang lainnya," jelas Grace.
Kemudian disampaikannya juga Pemerintah melalui Keputusan Presiden RI Nomor 19 Tahun 2002 tanggal 9 April 2002 telah menetapkan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional.
Yang terakhir makna Imlek menurut Grace adalah makna ganda atau segalanya datang bersamaan, yaitu kehidupan yang bermakna selalu memberi kebaikan bagi diri sendiri, orang lain, Perayaan Imlek secara material yang dipersiapkan untuk mengiringi kegembiraan batin dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan masyarakat. Budaya ini berkembang dengan simbol-simbol perayaan Imlek seperti, budaya makan bersama (Tuan Yuan Fan), budaya angpao, budaya kue keranjang (Nian Gao) dan ornamen tulisan Tionghoa berwarna merah.(zal)