PEKANBARU - Penurunan harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah Malaysia berimbas pada penurunan harga kelapa sawit di tanah air, khususnya Provinsi Riau yang merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Mutu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Dedi Yasmono mengkhawatirkan, penurunan harga ini bakal berlanjut akibat kenaikan pajak impor yang diberlakukan oleh pemerintah India.

"Tekanan terbesar terhadap harga CPO datang dari kebijakan pajak India. Namun analis memperkirakan bahwa dampak dari kenaikan pajak impor India hanya akan berlaku jangka pendek," kata Dedi kepada GoRiau.com di Pekanbaru, Selasa (29/11/2017).

Di Bursa Derivative Malaysia, harga CPO kontrak pengiriman Februari 2018 ditutuo melemah 3,1 persen ke level RM 2.630 per metrik ton.

"Ini penurunan terbesar sejak 16 Februari. Harga CPO juga berada di level terendah sejak 9 Agustus," ujarnya.

Selain itu, kondisi melemahnya harga CPO ini juga disebabkan oleh penguatan mata uang ringgit Malaysia dan pelemahan ekspor Malaysia.

"Selama November ini, ringgit mengalami penguatan dan pelemahan ekspor di Malaysia. Ini juga berperan menekan harga CPO dunia," tandasnya.

Adapun penetapan Harga TBS Provinsi Riau periode 29 November hingga 5 Desember 2017, sebagai berikut ; kelapa sawit umur 3 tahun sebesar Rp1.411,57; kelapa sawit umur 4 tahun Rp1.574,43; kelapa sawit umur 5 tahun Rp1.683,99; kelapa sawit umur 6 tahun Rp1.735,20; kelapa sawit umur 7 tahun Rp1.800,93.

Selanjutnya, kelapa sawit umur 8 tahun Rp1.857,19; kelapa sawit umur 9 tahun Rp1.917,87; kelapa sawit umur 10 tahun-20 tahun Rp1.970,44; kelapa sawit umur 21tahun Rp1.925,26.

Kemudian, kelapa sawit umur 22 tahun Rp1.879,35, kelapa sawit umur 23 tahun Rp1.834,17, kelapa sawit umur 24 tahun Rp1.815,95, dan kelapa sawit umur 25 tahun Rp1.743,07. ***