
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kinerja Humas PB PON XVIII 2012 kembali mendapat sorotan. Setelah Sumohadi Marsis, wartawan olahraga senior yang mengkritik kinerja mereka lantaran gaung PON belum terlihat, kini giliran wartawan lokal Riau. Sejumlah wartawan yang akan meliput pelaksanaan multievent terakbar di tanah air ini mengkritik karena id card mereka kacau balau.
Selasa (4/9), panitia sudah mulai membagikan id card kepada wartawan yang akan meliput PON. Tapi, dalam pembagian tersebut id card banyak yang tidak sesuai dengan ketentuan. Untuk wartawan tulis, pihak panitia telah menetapkan mereka akan mengunakan id card dengan kode E, sementara untuk fotografer memakai kode EP.
Namun kenyataannya di lapangan, hampir seluruh fotografer harian yang ada di Riau mendapat id card kode E yakni id card untuk wartawan tulis. Parahnya lagi, ada fotografer yang mendapat id card kode D, yakni untuk LO atau penghubung. "Seharusnya fotografer mendapat id card dengan kode EP. Tapi, hampir semua rekan-rekan fotografer mendapat id card kode E. Dan anehnya lagi, saya kebagian id card kode D," kata Cerry, fotografet Metro Riau.
Tidak saja untuk fotografer. Kesalahan juga terjadi di wartawan tulis. Yudhi Waldi, wartawan tulis Pekanbaru Pos yang seharusnya mendapat id card E, kebagian id card kode EP. "Payah panitia, masa saya diberikan id card fotograter, padahal data yang saya berikan sudah jelas bahwa saya wartawan tulis," ujarnya.
Wakil Bidang PPM PB PON Ridar Hendri mengakui ada kesalahan tersebut. Tapi, ia menolak bahwa kesalahan tersebut bukan di bidangnya namun bidang akreditasi. Sebab, semua data yang diberikan ke bidang akreditasi telah sesuai dengan data yang diberikan wartawan kepada mereka. "Kita menyerahkan data tersebut sesuai yang diberikan wartawan. Tapi, kita akan memperbaikinya kembali. Saya berharap rekan-rekan bersabar," ujarnya.
Selain masalah tersebut, masalah lain juga muncul. Wartawan yang sudah mengantongi id card tersebut belum bisa menjamin mereka akan boleh masuk saat pembukaan PON nanti. Mereka harus melakukan registrasi ke Korem. "Masa kita harus registrasi ke Korem. Kalau begitu untuk apa PB PON mengeluarkan id card kalau tidak berlaku untuk pembukaan. Lebih baik kami minta surat rekomendasi dari Korem," kata salah satu wartawan TV, kecewa.
Ketua Bidang IV Bidang Promosi dan Penyiarah PB PON Joni Irwan mengatakan, bahwa untuk peliputan pembukaan pihaknya sedikit memberlakukan sistem agak ketat. Ini dilakukan lantaran acara pembukaan dihadiri Presiden.Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah gubernur dari provinsi lainnya. "Tidak masalah sebenarnya. Kita hanya mencoba untuk menertibkan saja. Jadi saya berharap rekan-rekan paham," ucapnya. (*/rsc)