BAGANSIAPIAPI, GORIAU.COM - Allah SWT hanya membukakan pintu hidayah bagi orang-orang yang diinginkan-Nya. Cui Le yang kini berusia 34 tahun bersama ibu dan enam saudaranya, sangat beruntung, karena termasuk ke dalam orang-orang yang dipilih Allah untuk diberi hidayah. Alhamdulillah, wanita etnis Tionghoa asal Desa Penipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan HIlir, Riau ini, bersama ibu dan enam saudaranya, dengan mantap memutuskan memeluk Islam.

Cui Le alias Juliana, ketika berusia delapan tahun sering menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Ayahnya seorang pemabuk yang sering pulang ke rumah larut malam atau dini hari. Setiap pulang dalam keadaan mabuk ayahnya sering marah-marah dan berlaku kasar kepada ibunya.

"Ayah sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Kalau sedang emosi, barang-barang dalam rumah dirusaknya. Apa pun barang yang ada di dekatnya, misalnya botol, pasti dilemparkannya," cerita Juliana kepada GoRiau.com, Rabu (4/2/2015).

Mendengar caci-maki ayahnya kepada ibunya, Juliana bersama kakak dan adiknya yang saat itu masih kecil, tak kuasa membendung tangisan. Ayahnya, kata Juliana, begitu membenci ibunya dan bahkan menuduh ibunya berselingkuh.

Ibunya sangat takut kepada ayahnya, dan Juliana tak berdaya membela ibunya. Hampir tiap larut malam ayahnya menggebrak pintu, sehingga ibu Juliana dan ketujuh anaknya selalu dihantui ketakutan.

Anehnya, lanjut Juliana, dalam kondisi kehidupan yang sangat tertekan karena perlakuan jahat suaminya, setiap mendengar lantunan suara azan, hati ibu Juliana selalu bergetar dan merasakan kedamaian.

 "Aku merinding kalau mendengar suara azan. Perasaanku terasa sangat damai dan lapang," kata Juliana dengan nada haru, menirukan kalimat yang pernah diucapkan ibunya.

Karena alasan tersebut, ibu Juliana memutuskan ingin memeluk Agama Islam. Keinginan itu diutarakan kepada Kalifah Haji Said, ulama di Desa Penipahan. Akhirnya, ibu Juliana dan ketujuh anaknya pun menjadi mualaf.

Mendengar istri dan ketujuh anaknya memeluk Islam, ayah Juliana sangat marah. "Aku tak akan mengakui kalian sebagai anak," teriak ayahnya, seperti dicontohkan Juliana.

Namun keputusannya memeluk Islam sudah bulat. Apa pun yang terjadi, ibu Juliana dan ketujuh anaknya, tak akan pernah kembali ke keyakinan mereka sebelumnya.

Karena kesal, sang ayah membuang pekong kecil yang dijadikan sarana sembahyang milik ketujuh anak-anaknya yang berasal dari nenek moyang mereka ke laut. Setelah itu, dia memutuskan lari dari rumah, meninggalkan istri dan anak-anaknya.

"Dengar kabar, sekarang dia di Bengkalis dengan istri barunya," ujar Juliana.

Setelah memeluk Agama Islam, satu-persatu keluarga dari pihak sang ayah yang ada di Bagansiapiapi tidak lagi peduli dengan keadaan keluarga Juliana. Jangankan untuk menanyakan kondisi mereka, menegur pun tak sudi.

Sebaliknya, warga Muslim di Penipahan menaruh simpati atas perjuangan ibu Juliana menghidupi ketujuh anaknya, sejak ditinggal sang suami.

Untuk mempertahankan hidup, mereka berdagang, membuka usaha kecil-kecilan. Keinginan kuat sang ibu untuk mendalami Islam, mendorongnya mengeluarkan biaya untuk mendatangkan ustadz ke rumah.

Kini, ibu Juliana sudah dipanggil Sang Khalik. Kepergiannya ke tempat peristirahatan terakhir diantarkan ratusan warga Desa Penipahan. Para penggali kubur merasakan adanya keajaiban, karena tidak menemukan satu potong kayu pun saat menggali tanah untuk makam ibu Juliana.

"Padahal di tempat itu banyak kayu tertanam, karena bekas galangan kapal," tutur Juliana.

Hari kian berganti, Juliana, kakak dan adiknya beranjak besar. Mereka menyebar mencari kehidupan masing-masing sebagai seorang muslim. Adiknya yang paling bungsu, kata Juliana, berada di Malaysia. Saudaranya yang lain berdomisili di berbagai daerah. Sedangkan Juliana sudah menikah dengan lelaki muslim asal Pulau Jawa. Kini mereka sudah dikaruniai empat orang anak.

Jika Anda datang ke Pulau Halang Belakang, bertemu seorang wanita yang menjual pakaian khusus perempuan, menggunakan tiga bahasa, yakni Hokkian, Jawa dan Melayu, itulah Juliana. Gadis kecil yang dulu bersyahadat bersama ibu dan enam saudaranya, kini sudah menjadi muslim sejati dan bertekad mendidik anak-anaknya menjadi generasi Islam yang tangguh.

Semoga Allah SWT meneguhkan keimanan Juliana dan keluarganya. Amin.***