BENGKALIS, GORIAU.COM - Pemerintah kabupaten Bengkalis melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Selasa (28/7/2015) kemarin meneken perjanjian kerjasama tentang penelitian dan pengembangan dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dibawah pengawasan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia di Jakarta.

Perjanjian ini dalam rangka penguatan fungsi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu yang masuk dalam kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu (CB GSK-BB) di kabupaten Bengkalis. Kepala Balitbang kabupaten Bengkalis DR Sopyan Hadi SPi MT langsung menandatangani perjanjian tersebut dengan Kepala BBKSDA Riau Ir Kemal Amas MSc di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

"Balitbang dalam hal ini memiliki tujuan dan fungsi organisasi, untuk menggali ilmu pengetahuan dalam penguatan fungsi di cagar biosfer akan melakukan rencana keterpaduan aksi riset implementasi penangkaran semi alami harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) Tiger Sanctuary Zone Cagar Biosphere SM Bukit Batu," ungkap Sopyan Hadi kepada GoRiau.com, Rabu (29/7/2015) siang.

Lanjut Kepala Balitbang kabupaten Bengkalis juga dikenal sebagai pemerhati lingkungan dan perintis penangkaran penyu di pulau Jemur, bahwa kerjasama riset ini didasari atas keberadaan Cagar Biosfer dan keunikan harimau sumatera yang ada di Riau. Dimana dalam kondisi belum dioptimalkan sebagai sumber ilmu pengetahuan alam tropis terbesar di dunia dan kondisinya semakin memprihatinkan.

"Kritisnya populasi harimau Sumatera di dunia sudah masuk katagori 1 dan dikhawatirkan akan segera punah. Oleh sebab itu perlu keterpaduan seluruh stake holder dan pencinta ilmu pengetahuan serta lingkungan untuk sama-sama mendukung dan memperkuat kerjasama Tiger Sanctuary Zone Cagar Visioner GSK-BB ini," ujarnya.

Menurut penerima penghargaan lingkungan KEHATI dan Setia Lestari Bumi tingkat nasional ini, jangan sampai rencana ini terlambat dan hanya sebagai kenangan yang tidak dapat diwariskan dan dilihat kelak hingaa anak cucu.

"Munculnya konflik habitat antara satwa khususnya harimau dengan manusia di beberapa wilayah yang ada di kabupaten Bengkalis, perlu dilakukan upaya penyiapan tempat rehabilitasi yang layak secara alamiah, seperti semi captive breeding dalam perlindungan harimau  kedepannya," katanya lagi.

Tujuan yang mendesak dari konservasi harimau, bagi Sopyan Hadi adalah untuk  mengatasi penurunan populasi harimau melalui strategi konservasi dengan metode penangkaran untuk keperluan re-stocking populasi di alam melalui riset beberapa model dan ilmu pengetahuan penangkaran harimau Sumatera di Indonesia.

"Model tempat penangkaran ini juga diharapkan dapat menjadi center of excelence  studi harimau Sumatera di Asia, yang keberadaannya satu-satunya berada di Riau yang sudah mendunia," tutup Sopyan Hadi menjelaskan kepada GoRiau.com.(ric)