
PEKANBARU - Persoalan tingginya harga pupuk kimia sampai hari ini masih menjadi keluhan para petani. Dimana, kenaikan pupuk ini membuat biaya operasional perawatan kelapa sawit menjadi lebih besar.
Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan, pihaknya bahkan sudah menyampaikan hal ini kepada pemerintah pusat.
"Masalah ini terus dipantau pemerintah supaya kenaikan harga pupuk tidak membebani biaya produksi petani. Kita sudah sampaikan lewat Ketua Dewan Pembina Apkasindo, Pak Moeldoko," kata Gulat, Selasa (21/12/2021).
Gulat menerangkan, pihaknya sudah melakukan pengecekan dari hulu hingga ke hilir terkait kenaikan harga pupuk ini. Dan semuanya dalam kondisi normal, tapi harganya tetap naik sampai 120-160 persen dari harga normal.
"Masalahnya adalah produsen pupuk mau ambil untung berlebih. Kalaupun ada kenaikan, tidak sampai segitu, perhitungan kami hanya di angka 25-35 persen saja," tambahnya.
Untuk itu, lanjut Gulat, pihaknya bersama dengan pemerintah pusat akan melakukan pemantauan terhadap kenaikan harga pupuk yang sangat tinggi ini. Apakah dari faktor ketersediaan bahan baku atau memang ada permainan.
Solusi sementara, kata Gulat, pemerintah pusat menyarankan agar petani menggunakan pupuk organik sehingga tidak bergantung kepada pupuk kimia.
Selain pupuk organik bisa menyuburkan tanah, pupuk organik juga sangat baik untuk produktivitas dan tentunya hal ini sangat bersahabat dengan kelestarian lingkungan (berkelanjutan).
"Pupuk organik cukup banyak jenisnya, seperti pupuk organik cair. Kita akan coba dalami lagi potensi sumberdayanya,” paparnya.
Lebih jauh, Gulat menyampaikan, bahwa semua petani sangat menikmati harga TBS dan mereka lebih bersemangat dalam meningkatkan produktivitas buah sawitnya dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan, ekonomi dan sosial.
"Tetapi, kenaikan harga pupuk yang sangat tinggi berdampak negatif kepada biaya produksi petani dan menjadi tidak berarti kenaikan harga TBS saat ini," tuturnya. ***