
RENGAT, GORIAU.COM - Harga getah karet di kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) terjun bebas alias terjun tukik, sehingga membuat para petani karet di Inhu kian terpuruk. Kondisi ini telah berlangsung hampir satu tahun lamanya.
Turunnya harga karet ini, membuat petani kelabakan, karena sumber penghasilan mereka hanya semata - mata dari hasil getah karet tersebut. Diharapkan perintahan bisa berperan aktif dalam mengatasi hal ini.
"Jika beberapa bulan lalu, harga karet turun hingga Rp 8000/kilonya, sekarang hanya Rp 5000-5.500/kilonya. Kondisi ini sama saja membunuh petani", ujar salah seorang petani karet, Toni (35), warga Pematang Reba, Kecamatan Rengat Barat, Senin (29/9/2014).
Dengan demikian sebut Toni, petani bukan hanya kelabakan melainkan merintih, karena sumber mata pencaharian satu - satunya yang ia miliki tidak lagi dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
"Saat ini haarga kebutuhan terus melonjak, dan ini berbanding terbalik dengan harga getah karet. Harga karet per kilo tidak lagi sebanding dengan harga satu kilogram beras. Jika karet Rp 5000/kilonya, sedangkan beras mencapai 10000 - 12000/kiklonya. Jika sudah begini mau makan apa kami ini", tutur Toni sedih.
Maka dari itu sebutnya, mewakili para petani karet lain, dirinya berharap agar pemerintah, baik perintah kabupaten, provinsi dan pusat untuk dapat membela nasip rakyat saat ini, terutama para petani karet. "Sudah cukup lama kami menderita, mohon perjuanghkan nasip kami ini", tutupnya dengan mata berkaca - kaca.(jef)