PEKANBARU - Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswi di SMP Talenta Juara Pekanbaru mendapat perhatian serius dari pakar pendidikan. Guru Besar Pendidikan Universitas Islam Riau, Prof DR Zetriuslita, SPd MSi menilai peristiwa tersebut menjadi alarm yang sangat mengkhawatirkan bagi masa depan dunia pendidikan.

"Kejadian ini sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan. Kita tentu bertanya-tanya, seperti apa wajah dunia pendidikan ke depan jika kasus-kasus seperti ini masih terjadi di lingkungan sekolah," ujar Zetriuslita kepada GoRiau.com, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, sekolah sejatinya merupakan wadah bagi peserta didik untuk menimba ilmu, membangun karakter, memperkuat akhlak, serta menjalin hubungan sosial yang sehat. Karena itu, lingkungan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi setiap anak. Namun, derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi saat ini kerap memengaruhi karakter anak jika tidak dibentengi pendidikan agama yang kuat.

"Sebagian anak bisa saja menganggap perilaku membully sebagai sesuatu yang biasa karena sering melihat tayangan atau konten serupa. Karena itu, fondasi agama dan pendidikan karakter menjadi sangat penting," jelasnya.

Dari sudut pandang pendidikan, perundungan bukan sekadar perselisihan biasa antar siswa, melainkan bentuk kekerasan psikologis. Dampak buruknya dapat mengganggu kesehatan mental korban, merusak rasa percaya diri, menurunkan prestasi akademik, hingga menghambat perkembangan sosial anak.

"Ketika seorang siswa sampai merasa takut atau menolak datang ke sekolah, itu menjadi indikator bahwa lingkungan belajar belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman bagi peserta didik," tegasnya.

Evaluasi Menyeluruh dan Pemulihan Korban

Sebagai lembaga yang berkomitmen melahirkan pemimpin berakhlak, sekolah didorong melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan, mekanisme pelaporan, dan layanan konseling. Penanganan kasus dugaan perundungan juga harus berjalan cepat, transparan, serta berpihak pada perlindungan korban. Di sisi lain, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menghakimi pihak tertentu sebelum proses klarifikasi selesai dilakukan.

"Fokus utama saat ini adalah pemulihan kondisi korban, pendampingan psikologis, edukasi kepada pelaku dan teman sebaya, serta perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang kembali," katanya.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari nilai akademik, melainkan dari kemampuan sekolah menghadirkan lingkungan yang inklusif, nyaman, dan bersih dari perundungan. Sinergi antara guru, orang tua, konselor, serta pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan bermartabat.

"Orang tua harus terus mengingatkan anak bahwa tujuan utama ke sekolah adalah menuntut ilmu dan membentuk karakter yang baik. Guru juga harus menjadi teladan sehingga siswa melihat dan mencontoh hal-hal positif yang ada di sekolah," urainya.

Permasalahan ini diharapkan bisa segera diselesaikan secara tuntas oleh Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru melalui langkah penyelesaian yang bijak serta adil.

"Kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan dinas pendidikan harus terus ditingkatkan. Semoga kasus ini menjadi pelajaran berharga dan tidak terulang kembali, baik di sekolah ini maupun di sekolah-sekolah lainnya," pungkasnya. ***