PEKANBARU – Tagar #KaburAjaDulu tengah ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan Generasi Z. Fenomena ini mencerminkan kekecewaan dan frustrasi generasi muda terhadap kondisi ekonomi serta ketidakstabilan lapangan kerja di Indonesia.

Generasi Z, yang dikenal melek teknologi dan memiliki aspirasi tinggi, merasa terjebak dalam situasi sulit, sehingga muncul ekspresi "kabur saja dulu" sebagai bentuk pelarian simbolis dari tekanan yang mereka hadapi.

Dalam wawancara eksklusif GoRiau.com dengan Dr. Gatot Wijayanto, SE., M.Si., CIAR., CSEA., CBPA, seorang pengamat sosial dan ekonomi, ia menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan refleksi dari ketidakpuasan generasi muda terhadap kondisi perekonomian dan ketidakpastian pekerjaan.

"Pemerintah memang memiliki peran besar dalam menyediakan lapangan kerja yang layak dan stabil. Namun, kondisi ekonomi yang tidak menentu menjadi faktor utama yang mempengaruhi ketersediaan pekerjaan," ujar Dr. Gatot.

Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang melatarbelakangi fenomena ini. Pertama, keterbatasan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan. Kedua, perubahan ekonomi yang dinamis dan sulit diprediksi. Ketiga, kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri. Keempat, ekspektasi kerja yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan.

"Generasi Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan. Mereka ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan passion mereka dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sayangnya, banyak dari mereka yang terpaksa menerima pekerjaan yang tidak memenuhi harapan tersebut," tambahnya.

Dr. Gatot menyarankan beberapa langkah konkret yang dapat diambil untuk mengatasi persoalan ini. Pertama, meningkatkan investasi di sektor-sektor yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Kedua, mengembangkan program pelatihan dan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Ketiga, meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam pengambilan keputusan kebijakan ketenagakerjaan. Keempat, memperbaiki sistem pengelolaan ekonomi agar lebih transparan dan akuntabel.

"Fenomena #KaburAjaDulu seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi serta perbaikan kebijakan. Ini adalah tanda bahwa generasi muda membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam hal stabilitas ekonomi dan lapangan kerja," tegasnya.

Dengan demikian, fenomena ini bukan sekadar tren viral di media sosial, tetapi juga cerminan nyata dari permasalahan yang dihadapi generasi muda saat ini. Harapannya, langkah strategis yang diambil dapat membawa perubahan positif dan memberikan harapan baru bagi masa depan Generasi Z. ***