
SELATPANJANG - Senin (4/1/2016) sore, GoRiau.com bertemu dengan pelatih sekaligus melihat atlet gulat Kabupaten Kepulauan Meranti latihan di Selatpanjang, Riau. Sekira pukul 16.30 WIB, GoRiau tiba di depan gedung gulat Jalan Yos Sudarso Selatpanjang. Terlihat beberapa kendaraan bermotor terparkir di jalan masuk gedung.
Secara kasat mata, gedung berwarna kusam itu sudah terlihat sebagai gedung tua yang tak lagi digunakan. Rumput segar setinggi 30 - 50 yang terletak di sisi kiri kanan jalan menuju gedung menyambut kehadiran GoRiau.
Sepintas gedung kusam itu tidak ada aktivitas dan hanya gedung tua yang menyeramkan. Namun, dari dalam gedung terdengar teriakan dan hempasan tubuh anak cucu adam.
Dari kejauhan, terlihat laki-laki bertubuh gempal tersenyum dan menyambut GoRiau di pintu masuk gedung. Ya, dia Edi Kurniawan, asisten pelatih Gulat Meranti.
Laki-laki bertubuh rendah ini selain asisten pelatih, dia juga atlet senior yang telah sering mengharumkan nama Meranti, maupun Riau (nasional).
Sedikit tentang Edi Kurniawan, tahun 2009 lalu, Ia berhasil mendapat medali perak pada Kejurnas Piala Presiden. Tahun 2012 mendapat medali perunggu saat mengikuti PON, tahun 2013 Edi berhasil dapat medali perak pada Kejurnas Senior di Jember. Serta beberapa pertandingan yang Ia ikuti sejak kecil.
Pantauan GoRiau di dalam gedung, terlihat beberapa atlet sedang berlatih. Keringat mengucur kemudian membasahi matras yang juga telah berwarna kusam.
Sesaat sebelum mengobrol panjang, GoRiau melihat kondisi gedung gulat Meranti sudah sangat memperihatinkan dan perlu segera direhab. Kursi busa dan meja yang terletak di dalam gedung berukuran belasan meter itu tidak lagi bisa digunakan.
Plafon gedung sudah berjatuhan dan bergelantungan di atas yang setiap saat bisa mengenai dan mencederai atlet. Kaca-kaca jendela sudah banyak yang pecah, atap gedung sudah banyak bolong.
Peralatan fitnes semuanya sudah berkarat. Jumlahnya pun sangat sedikit. Akibat diambil maling.
Panggung tempat matras sudah rapuh akibat sering tergenang air saat turun hujan.
"Beginilah kondisi gedung gulat Meranti," kata Edi memulai pembicaraan.
Edi mengaku, meski sudah banyak medali yang disumbangkan para atlet untuk daerah, namun perhatian ke gedung yang dibangun zaman Kabupaten Bengkalis itu sama sekali belum ada. Sejak Meranti jadi kabupaten 7 tahun silam, sama sekali belum ada perhatian Pemda untuk memperbaiki apalagi membangun baru, hingga akhir tahun 2015.
"Tak banyak yang kami inginkan, cukup gedung ini direhab," kata Edy.
"Jangan sampai ada air hujan yang jatuh ke dalam dan membasahi tempat latihan," tambah pelatih gulat Sarihusin di sela-sela aktivitasnya sore itu.
Kata Edi, mereka tidak bisa menjadwalkan latihan sesuai keinginan. Sebab, pada saat hujan turun, gedung gulat tergenang air. Atlet bisa bermain atas matras layaknya bermain di kolam renang. Selain itu, saat angin berhembus kencang, mereka juga menghentikan latihan, karena takut ada balok-balok yang berada di atas gedung jatuh dan mengenai kepala.
Ketika disinggung tentang prestasi sehingga ngotot minta perhatian Pemda, Edi mengungkapkan atlet gulat Meranti sudah teruji. Meski latihan di tempat yang minim fasilitas, kemudian tidak ada karantina atlet (aktivitas atlet tidak terpantau dengan baik, red) mereka masih bisa menyumbangkan medali untuk Meranti.
Beberapa waktu lalu tambah Edi, saat mengikuti open turnamen gulat Walikota Cup 2015 di Pekanbaru, dua atlet Meranti Khairuddin dan Subahagia berhasil mendapatkan medali perak dan perunggu.
"Semangat juang atlet Meranti sangat tinggi, kalau diiringi dengan fasilitas yang lengkap, saya percaya mereka jadi. Saya berani memasang target terbaik," kata Edi.
"Nanti PON tahun ini, satu atlet kita ikut, tidak mudah untuk lolos seleksi. Ini membuktikan atlet asal Meranti punya potensi," tambahnya pula.
Untuk regenerasi kedepannya, Edi berharap Disparpora Meranti melanjutkan PPLP daerah cabang gulat. Sehingga ada regenerasi atlet junior (maksimal 20 tahun) yang sudah berganti status menjadi atlet senior.
Terkait kondisi gedung, Edi berharap bupati terpilih dan komisi membidangi olahraga bisa menyatukan persepsi, sehingga gedung yang sudah sangat tua itu bisa direhab dan melengkapi fasilitas latihan didalamnya. Sebab, akibat kondisi gedung rusak, lebih 300 kg besi (alat fitnes) telah hilang diambil maling.
"Maling bisa masuk melalui ruang ventilasi. Kita harap kedepannya pihak terkait bisa lebih memperhatikan dan mau merehab gedung gulat. Ini demi prestasi anak daerah juga," harap Edi yang diaminkan beberapa atlet sore itu. ***