SELATPANJANG, GORIAU.COM - Gara-gara jalan menuju pelabuhan kempang (salah satu angkutan kapal untuk memuat kendaraan roda dua di Kepulauan Meranti), warga yang akan menyeberang dari Desa Mekong harus dua kali naik kempang. Jalan pelabuhan itu terendam sepanjang 200 meter.

Dimana, kempang pertama untuk menyeberangkan dari pelabuhan Semukut ke pelabuhan Desa Mekong. Sedangkan dari pelabuhan Desa Mekong ke batas air laut yang merendam jalan kembali menggunakan kempang yang ditarik beberapa orang warga.

Diakui salah seorang warga yang enggan menyebutkan namanya mengakui menggunakan jasa kempang tarik ini, Ia membayar Rp15 ribu untuk satu unit motor. Jika tidak, Ia tidak bisa melintasi jalan yang terendam air laut itu.

"Kalau tidak mau menggunakan kempang tarik itu, honda (sebutan untuk sepeda motor, red) kita tidak bisa melintasi. Selain bisa merusakkan besi sepeda motor, tingginya air laut yang naik ke jalan bisa membuat mesinnya mati," katanya kepada GoRiau.com.

Tingginya air laut yang naik ke jalan penyeberangan juga diakui salah seorang personil Dishub, Arichi, yang sehari-hari bertugas memantau aktivitas di penyeberengan itu. Kata Arichi, air laut yang naik ke jalan mencapai 30-40 cm. Kondisi seperti ini bisa membuat mesin motor mati.

"Jangankan motor bebek, motor sport seperti tiger, rx king, juga tidak bisa lewat karena tingginya air laut ini," kata Arichi.

Pantauan di lokasi, air laut merendam lebih dari 200 meter di jalan penyeberangan tepatnya di Desa Mekong. Sedangkan untuk transit kendaraan menyeberangi sungai, masyarakat memanfaatkan sisa jembatan batu yang masih terlihat ketika air pasang. Kondisi ini diyakini tidak bertahan lama. Sebab, jika debit air laut semakin meningkat, yang diperkirakan awal tahun 2015 mendatang, maka dikhawatirkan jembatan itu akan terendam seluruhnya oleh air pasang, sehingga akan mempersulitkan warga untuk melakukan perjalananan ke Ibukota Kabupaten maupun ke Desa Semukut Kecamatan Pulau Merbau. (zal)