SELATPANJANG, GORIAU.COM - Akses transportasi laut di Desa Seigayung Kiri Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti, Riau, masih sangat terbatas. Warga desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu harus bergantung pada kondisi air laut.

Jika air laut pasang, warga Desa Seigayung Kiri Rangsang ini bisa dengan mudah ke Tanjungbalai Kepulauan Riau (karena jarak lebih dekat ke Tanjungbalai, red) baik untuk berbelanja keperluan sehari-hari, maupun pergi berobat. Namun, ketika air laut surut, warga tidak bisa berangkat menggunakan kapal laut, sementara jika kembali dari Tanjungbalai, sementara air laut surut, warga harus berjalan di pantai sekitar 1 kilometer.Menurut Kepala Desa Seigayung Kiri, Wan Ace, mereka memiliki pantai landai jauhnya sekitar 1 KM dari tebing ke batas air laut yang tidak mengalami surut. Sementara, untuk jembatan mereka baru ada sekitar 600 meter. Kekurangan sarana jembatan inilah yang menjadi kendala selama ini, dan belum teratasi.Menurut Ace, biasanya warga Desa Seigayung Kiri Rangsang berobat ke Tanjungbalai Karimun. Keberangkatan ke Tanjungbalai haruslah melihat kondisi air laut."Pernah ada warga di sini meninggal sebelum kita bawa ke Tanjungbalai karena air laut sedang surut, ferri tidak bisa berangkat," ujar Ace.Pantauan GoRiau di laut Desa Seigayung Kiri itu, memang terdapat pantai landai sekitar 1 KM sebagaimana disampaikan Ace. Selain itu, guna mendukung aktivitas warga yang kebanyakan nelayan, telah pula dibangun jembatan kayu. Namun, jembatan itu belum maksimal kegunaannya karena masih ada kekurangan yang harus ditambah agar jembatan sampai ke air yang tidak mengalami surut.Pantai landai itu, di hari biasa akan sangat sulit dilalui karena merupakan pantai lumpur. Sementara, pada musim utara biasanya pantai itu akan sedikit keras. Warga yang pulang dari Tanjungbalai Kepri, jika air surut, harus berjalan di lumpur pantai itu untuk sampai ke tebing.(zal)