PEKANBARU - Deru mesin motor berpadu dengan sorak-sorai ribuan penonton mewarnai Sirkuit Non-Permanen (NP) Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Pekanbaru di Tenayan Raya pada Minggu (23/8/2026). Event Moto Prix Piala Wali Kota Pekanbaru ini tidak sekadar menyajikan adu cepat kuda besi di atas lintasan aspal, tetapi juga sukses menjadi wadah perputaran ekonomi kerakyatan dan aksi solidaritas kemanusiaan.

Berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu (22/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026), kejuaraan balap motor resmi ini diikuti oleh sekitar 200 pembalap yang memperebutkan posisi terbaik di 15 kategori kelas utama maupun pendukung. Menariknya, panitia penyelenggara membebaskan biaya tiket masuk bagi penonton dan menggratiskan lapak bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho menilai kehadiran ribuan penonton beserta tim ofisial dan komunitas otomotif terbukti mampu mendongkrak perputaran ekonomi masyarakat sekitar selama akhir pekan.

"Alhamdulillah, acaranya selesai dan berlangsung meriah. Hadiah untuk para juara cukup besar, dan yang paling membahagiakan, dari event ini kita berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp120 juta untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana di NTT," papar Agung.

Siasat Tekan Aksi Balap Liar

Selain dampak sosial dan ekonomi, ajang adu kecepatan ini dirancang sebagai wadah penyaluran bakat generasi muda guna meminimalisir aksi balap liar di jalanan umum. Agung berharap ke depannya Pekanbaru mampu menggelar kompetisi balap berskala nasional secara reguler.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia telah menginstruksikan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Pekanbaru untuk segera berkoordinasi intensif dengan Polresta Pekanbaru. Dispora yang tahun ini mengelola pagu belanja modal sebesar Rp 13 miliar diharapkan mampu merancang dan memfasilitasi kejuaraan serupa secara berkesinambungan.

"Setelah kita diskusikan dengan Pak Kapolresta, kita berharap event seperti ini bisa dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Dengan adanya wadah resmi, mudah-mudahan balapan liar di Kota Pekanbaru semakin berkurang," tegasnya.

Drama Tikungan Terakhir di Kelas Bebek Standar U-23

Persaingan sengit para pembalap terlihat di berbagai kelas yang dipertandingkan, dengan total pendaftar mencapai 400 starter. Kompetisi ini mempertemukan atlet balap dari berbagai wilayah di Pulau Sumatera, yang meliputi:

  • Provinsi Riau (Pekanbaru dan kabupaten/kota lainnya)
  • Provinsi Sumatera Barat
  • Provinsi Sumatera Utara
  • Provinsi Jambi

Salah satu aksi dramatis tersaji di kelas Bebek Standar U-23. Ardia Farel Ramadhan, pembalap asal Bukittinggi, berhasil mengamankan podium pertama setelah terlibat aksi saling salip yang ketat. Ia sempat kehilangan posisi terdepan sebelum akhirnya sukses mengambil alih pimpinan balapan tepat pada putaran terakhir.

Ardia mengaku sangat puas dengan hasil yang diraihnya dan memuji kualitas sirkuit yang disediakan oleh Pemkot Pekanbaru.

"Persaingannya cukup ketat dan pada lap terakhir saya bisa kembali menyalip. Layout sirkuitnya bagus, aspalnya tidak licin. Enak untuk cornering dan chicane-nya juga bagus," rincinya. ***