PEKANBARU, GORIAU.COM - Walikota Pekanbaru Firdaus, ST MT resmi diberi gelar Datuk Bandar Setia Amanah dan Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi, SSi didaulat menjadi Datuk Muda Bandar Setia Amanah. Penabalan gelar tersebut dilaksanakan di Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru, jalan Senapelan, Sabtu (21/6/2014).

Prosesi penabalan gelar adat ini diawali dengan pembacaan surat keputusan Majelis Kerapan Adat (MKA) Kota Pekanbaru. Kemudian, pemasangan tanjak (penutup kepala tokoh adat Riau) sekaligus pemasangan selendang.

Pemasangan itu dilakukan oleh Dr. Nurhasyim, SH MH selaku Ketua MKA Kota Pekanbaru dan Drs. Dastrayani Bibra, MSi selaku ketua DPH LAMR Kota Pekanbaru.

Usai memasang lambang kebesaran, para pemuka adat dan tokoh melayu Riau secara bergantian melakukan tepuk tepung tawar. Didahului oleh H. Tenas Effendy selaku ketua MKA LAM Riau, Al Azhar selaku ketua DPH LAM Riau, Herman Abdullah dan Syukri Harto selaku Sekdako Pekanbaru serta tokoh-tokoh lainnya.

Dalam arahannya, Nurhasyim mengatakan penabalan gelar Datuk Bandar Setia Amanah dan Datuk Muda Bandar Setia Amanah merupakan pemberian untuk yang memimpin negeri. Dimana, pemimpin tersebut merupakan tumpuan kepercayaan yang mengayomi, membimbing dan memberi nasehat sebagaimana yang terdapat dalam adat.

Amanah itu, kata Nurhasyim, juga terpatri dalam visi misi Kota Pekanbaru yang salah satu misinya yakni terwujudnya Kota Pekanbaru sebagai kota metropolitan madani. Tentunya, menuju masyarakat yang sejahtera, beriman dan bertakwa. ''Mudah-mudahan, budaya melayu Riau semakin berkembang,'' ujar Nurhasyim.

Selain penabalan gelar, sebelumnya Firdaus MT dan Ayat cahyadi meresmikan Balai Adat Melayu Kota Pekanbaru yang terletak di Jalan Senapelan. Kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan pengurus LAMR Kota Pekanbaru periode 2014-2019.

"Jadi, bersempena HUT Pekanbaru yang 230 ada tiga peristiwa penting," ujar Nurhasyim.

Dikatakan Nurhasyim, peresmian balai adat melayu Kota Melayu merupakan realisasi program fisik yang sudah direncanakan sejak tahun 2004. Dimulai dari pengadaan tanah lokasi pendirian hingga pengerjaan fisik. "Semuanya berasal dari APBD Kota," katanya.

"Untuk itu, kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak Herman Abdullah, sebab pembangunan Balai Adat ini diawali sejak masa pemerintahannya dan selesai pada pemerintahan Bapak Firdau dan Bapak Ayat," kata Nurhasyim.

Nurhasyim mengaku, awalnya mereka merasa kesulitan untuk mendirikan Balai Adat. Sebab, lahan kosong di sekitar jalan Senapelan sangat langkah. Sementara, Balai Adat Melayu harus berada di Senapelan. Alasannya, terkait sejarah Kota Pekanbaru di dusun Senapelan. Dimana, dusun ini merupakan cikal bakal Kota Pekanbaru.

"Akhirnya, ada warga yang merelakan tanahnya diganti rugi untuk balai adat ini," katanya. Semua itu, tidak terlepas dari bantuan Datuk Bandar Setia Amanah. "Semoga datuk mendapat imbalan yang setimpal," tambahnya.

Tenas Effendy: Firdaus - Ayat Layak Mendapatkannya

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Tenas Effendy mengatakan Walikota Pekanbaru sudah tepat untuk mendapatkan gelar Datuk Bandar Setia Amanah. Begitu juga dengan Ayat Cahyadi dengan Datuk Muda Bandar Setia Amanah

''Pemberian gelar adat untuk Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru itu diberikan oleh LAMR Pekanbaru dengan berbagai macam pertimbangan," ujar Tenas.

Pertimbangan-pertimbangan itu, kata Tenas ada dalam ketentuan-ketentuan adat. Pemberian gelar Datuk Bandar Setia Amanah merupakan sebuah proses yang lama. "Makanya, Firdaus-Ayat baru mendapat gelar dari adat setelah menjabat selama dua tahun," katanya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23062014/nurhasyimm-997.jpgNurhasyim memasangkang selendang ke Firdaus sebagai tanda telah orang besarPada prinsipnya, penetapan pemberian gelar tersebut merupakan sepenuhnya hak LAMR Kota Pekanbaru. Namun, setelah ada kesepakatan dan dianggap pantas, LAMR Kota Pekanbaru mengadakan koordinasi dengan LAMR Provinsi Riau.

Tenas menjelaskan, gelar adat ini sangat penting. Mengingat, Walikota dan Wakil Walikota merupakan pemimpin di wilayah Pekanbaru. Dimana, ia memberikan wewenang untuk membuat kebijakan tentang suatu daerah. "Gelar ini akan menjadi beban moral baginya, jika seandainya ia membuat kebijakan yang dapat merugikan masyarakat banya," kata Tenas.

"Dia punya moral untuk menjaga marwah Riau yang memiliki visi 2020 dan Kota Pekanbaru dengan 2021-nya," tambah Tenas.

Dengan adanya gelar ini, lanjut Tenas, menandakan adanya sebuah komitmen yang jelas dari Kepala Daerah dalam hal ini Walikota Pekanbaru untuk menjaga, membina dan melestarikan budaya melayu. "Ini sebuah peluang yang bagus untuk dimanfaatkan, supaya budaya melayu tidak luntur," ucapnya.

"Penabalan Firdaus sebagai Datuk Bandar Setia Amanah merupakan bentuk dukungan moral kita kepadanya apabila ia mengambil keputusan dalam pencapaian visi misi Pekanbaru sebagai kota metropolitan madani," sambung Tenas. Kebijakan yang dimaksud Tenas seperti membuat sebuat peraturan daerah (Perda). Tenas meyakini ditengah masyarakat Pekanbaru yang majemuk, dukungan dari LAMR sangat besar pengaruhnya.

"Pekanbaru ini masyarakatnya sangat majemuk dan harus ada yang mendukung Walikota untuk mengambil sebuah kebijakan dan itu LAMR Kota Pekanbaru," jelasnya.

Untuk gelar itu sendiri, lanjut Tenas, akan dipertanggungjawabkannya. Jika ada yang ia langgar, maka gelar itu bisa dicabut kembali. "Hukuman yang pantas adalah gelarnya dicabut dan ia mendapat malu," katanya.

Menurut Tenas, dalam kehidupan masyarakat Melayu, hukuman yang paling ditakutkan adalah ketika gelar kebesaran seseorang dicabut. "Jadi, tidak serta merta mendapat gelar begitu saja," katanya.

Berkomitmen Menjaga Marwah

Tiada kata selain syukur terucap dari mulut sang Walikota Pekanbaru, Firdaus, ST MT usai menerima gelar kehormatan adat yang diberikan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kota Pekanbaru. Senyum manis selalu ia lemparkan kepada siapa saja yang memberi ucapan selamat. Rona kebahagiaan begitu terpancar dari wajahnya.

Hal serupa juga terlihat pada Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi yang bergelar Datuk Muda Bandar Setia Amanah. Mereka berdua benar-benar menikmati setiap prosesi penabalan gelar adat ini.

"Kami (Firdaus-Ayat) bersyukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terimakasih banyak pada pemangku adat yang telah memberikan gelar kehormatan ini," kata Firdaus yang didampingi Ayat Cahyadi kepada puluhan awak media, Sabtu (21/6/2014).

Firdaus dan Ayat akan menjadikan gelar kehormatan ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras, lebih besar dalam mewujudkan visi misi Kota Pekanbaru. "Kedepannya, ini menjadi sumber semangat baru kami untuk berbuat lebih banyak lagi," katanya.

Firdaus menyadari, dalam mengambil setiap kebijakan sangat diperlukan dukungan dari semua pihak. Begitu juga dengan LAMR Kota Pekanbaru. Dimana, dukungan sangat berarti dan ia bisa lebih berkonsentrasi dalam bekerja.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23062014/tenaseffen-998.jpgTenas Effendy melakukan tepuk tepung tawar ke Firdaus dan Ayat."Semoga dapat mengemban amah ini dan menjaga marwah Riau, Pekanbaru khusunya sebagai panji payung negeri," kata Firdaus.

Untuk itu, ia mengharapkan pengurus LAMR Pekanbaru yang baru saja dilantik mampu bekerjasama dan sama-sama bekerja dalam membangun Kota Pekanbaru. Firdaus menilai, dalam kepengurusan LAMR Kota Pekanbaru terdapat figur-figur intelektual. Selain itu, ada perpaduan antara tokoh muda dan tokoh tua. "Ini menjadi modal besar bagi peningkatan sumber daya manusia Kota Pekanbaru," katanya.

Ia pun berharap, LAMR Pekanbaru dapat memayungi seluruh warga Pekanbaru tanpa membeda-bedakan. Sebab, penduduk Pekanbaru sangat majemuk namun mampu hidup berdampingan. "Walaupun ada perbedaan adat istiadat, namun tetap dalam bingkai adat melayu," katanya.

Firdaus Ingin Balai Adat Menjadi Kompleks LAMR Pekanbaru

Lahan tempat berdirinya Balai Adat Kota Pekanbaru dinilai sangat sempit. Jika ada acara besar seperti penabalan dan acara adat lainnya, para undangan kesulitan mencari tempat parkir. Akhirnya, mereka berinisiatif untuk memarkir kendraan di jalan raya.

Kondisi ini menjadi perhatian khusu oleh Walikota Pekanbaru. Sebab, lahan yang sempit tak cukup untuk membangun fasilitas parkir yang besar.

"Beberapa hari yang lalu, kami lewat disini dan memperhatikan lokasi Balai Adat, ternyata lahannya sangat kecik," ujar Firdaus. Oleh karena itu, ia sudah berbicara dengan pengurus LAMR Kota Pekanbaru agar merayu warga sekitar agar mau tanahnya diganti rugi.

"Kami sudah bincang-bincang, pandai-pandailah merayu warga sekitar agar mereka mau tanahnya diganti rugi," kata Firdaus. Firdaus berniat membeli tanah yang ada sekitar balai adat. Rencanya, daerah tersebut dijadikan sebagai kompleks LAMR Kota Pekanbaru.

Untuk menghindari tanah-tanah sekitar didirikan bangunan Ruko, Firdaus berjanji tidak akan memberi izin siapa saja yang hendak membangunnya. Sebab, lahan tersebut harus menjadi milik LAM. "Saya tidak akan beri izin dan tidak boleh ada ruko sekitar balai adat ini," tegas Firdaus. (san)