BAGANSIAPIAPI - Setelah tiga tahun vakum karena pandemi COVID-19, Festival Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, kembali dihelat dan berhasil menarik puluhan ribu wisatawan. Acara ini memperingati kedatangan masyarakat Tionghoa ke Bagansiapiapi pada 1820 dan memamerkan kekayaan budaya peranakan Tionghoa di "Hong Kong Van Andalas".

Ritual Bakar Tongkang dimulai dari Klenteng Ing Hok Kiong, klenteng tertua di Kota Bagansiapiapi. Replika kapal tongkang, yang dibuat dari kayu dan kertas dan dihiasi simbol-simbol khusus, telah dipersiapkan beberapa bulan lalu.

Pada 5 Juli 2023, Gubernur Riau, Syamsuar, bersama Bupati Rokan Hilir, Afrizal Sintong, serta sejumlah pejabat lainnya hadir di Klenteng In Hok Kiong untuk melepas replika kapal tongkang menuju tempat pembakaran.

"Setelah tiga tahun event Bakar Tongkang ditiadakan akibat pandemi, kini dapat kita saksikan kembali Event Pariwisata Nasional Bakar Tongkang. Event ini selalu dinantikan oleh masyarakat Tionghoa, baik dari Kabupaten Rokan Hilir maupun masyarakat Tionghoa dari mancanegara," kata Gubernur Riau Syamsuar. 

GoRiau

Gubernur Syamsuar berpendapat bahwa sektor pariwisata dapat merangsang banyak perubahan dan membantu pengembangan pariwisata. Hal ini sama artinya dengan merawat budaya, alam, hingga sektor ekonomi. "Karena itulah kita sangat mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dengan mengembangkan objek yang sesuai dengan keinginan publik. Bagansiapi-api, misalnya, tidak hanya dikenal dengan event Bakar Tongkang, mulai dari kuliner sampai Bagan Heritage juga tak kalah," ujarnya.

Gubernur Riau optimis bahwa event Festival Bakar Tongkang akan meningkatkan perekonomian lokal, khususnya Kabupaten Rokan Hilir. Ia berpendapat bahwa ini sejalan dengan gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI). "Dengan adanya event ini akan tumbuh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Bagansiapiapi khususnya dan Rokan Hilir pada umumnya. Ini juga sejalan dengan program bangga berwisata di Indonesia," pungkasnya.

Dilepas

Setelah dilepas, replika kapal tongkang diarak dan digotong secara bergantian. Peserta ritual dan pengunjung yang hadir, yang kebanyakan mengenakan busana merah, ikut serta dalam arak-arakan meriah tersebut. Ketika replika kapal tongkang tiba di lokasi pembakaran, ia langsung dinaikkan ke atas tumpukan kertas sembahyang warna kuning, dikenal sebagai Kim ChuaChua.

Ritual ini terus berlanjut dengan replika kapal tongkang yang akan dibakar, siap untuk eksekusi. Hiasan-hiasan angpao bercorak keemasan dan merah, tersusun rapi di dekat tongkang. Semuanya disiapkan dengan seksama sebagai persiapan ritual bakar tongkang. Kemudian, saatnya replika kapal tongkang dibakar sebagai puncak acara, semua mata tertuju pada arah jatuhnya tiang tongkang.

Saat Replika Kapal Tongkang dibakar, semua peserta dan penonton begitu antusias menunggu arah jatuhnya tiang tongkang. Dalam tradisi Tionghoa Bagansiapiapi, arah jatuhnya tiang tersebut melambangkan keselamatan dan peruntungan usaha. Tahun ini, berdasarkan arah jatuhnya tiang, peruntungan diperkirakan ada di laut.

Festival Bakar Tongkang tidak hanya menjadi perayaan budaya tetapi juga menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya dalam menghidupkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Festival ini menjadi harapan baru dan pembuka jalan untuk kemajuan sektor pariwisata di Riau pasca pandemi, serta mengajak masyarakat untuk bangga berwisata di Indonesia.

Festival Bakar Tongkang yang meriah ini menjadi contoh betapa pentingnya merawat dan memperingati warisan budaya sebagai bagian dari upaya untuk mempromosikan pariwisata lokal dan mendukung ekonomi daerah. Dengan adanya kegiatan ini, Riau berharap dapat menarik lebih banyak wisatawan dan mengembangkan sektor pariwisata lokal dalam upaya meraih peruntungan yang lebih besar di masa depan. ***