
JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengalihkan layanan medis ke luar gedung dengan mendirikan dua rumah sakit lapangan berbasis tenda udara (inflatable) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan ini diambil menyusul kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan, sekaligus demi memastikan korban luka berat aman dari risiko gempa susulan. Sebanyak 392 tenaga kesehatan turut diterjunkan ke lokasi terdampak.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin menyebutkan bahwa dua fasilitas darurat tersebut ditempatkan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo dan area RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.
"Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin," paparnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Rabu (26/8/2026), bencana ini menelan 105 korban jiwa. Tercatat 385 korban luka berat masih memerlukan perawatan intensif, sementara 1.287 orang lainnya menderita luka ringan. Insiden ini juga memaksa lebih dari 185 ribu warga menetap di 444 titik pengungsian. Secara keseluruhan, total warga terdampak mencapai 1,91 juta jiwa yang tersebar di Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
Dalam upaya memperkuat kapasitas 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di wilayah tersebut, Kemenkes mengirimkan 207 relawan medis dari pusat. Gelombang berikutnya yang terdiri dari 78 relawan tambahan akan menyusul untuk bertugas selama 14 hari ke depan. Mobilisasi lintas profesi yang dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) ini mencakup dokter spesialis bedah, spesialis ortopedi, tenaga gizi, hingga tenaga sanitasi.
Selain menangani trauma fisik, tim medis bersiaga terhadap potensi wabah di tempat pengungsian. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak dikeluhkan dengan total 9.668 kasus. Petugas juga mendata adanya 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo, di mana seluruh korban telah diberikan vaksinasi secara lengkap. Pemerintah menjamin ketersediaan alat kesehatan, logistik medis, dan kelancaran sistem rujukan, sembari meminta para pengungsi untuk menjaga kebersihan lingkungan serta proaktif memeriksakan diri ke posko kesehatan terdekat bila timbul keluhan.***