
ADA kabar menggembirakan, khususnya bagi petani kelapa di Riau. Pemerintah akan meremajakan pohon kelapa yang ditanam di wilayah ini. Luasnya tak tanggung-tanggung. Sebanyak 43.800 hektare dari 426.579 hektare jumlah seluruh kebun kelapa di Riau.
Menariknya, seperti diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Syahrial Abdi, Gubernur Riau mengambil kebijakan akan mendistribusikan program peremajaan kelapa ini ke sejumlah kabupaten lainnya. Dengan begitu, kata Syahrial, program tersebut dapat menjadi upaya memperkuat posisi Riau sebagai daerah dengan basis perkebunan kelapa yang merata.
Seperti diketahui, selama ini Inhil merupakan kabupaten yang terbanyak pohon kelapanya. Tak hanya pemecah rekor di provinsi ini saja. Tapi juga untuk Indonesia bahkan konon dunia.
Agar tidak terpusat di sini saja, gubernur mengambil kebijakan akan mendistribusikan juga ke Pelalawan, Meranti, Rohil, Bengkalis, dan Siak. Ini sesuai dengan program strategi nasional yang menempatkan Riau sebagai daerah pengembangan industri turunan kelapa.
Menurut Syahrial, sebenarnya perkebunan kelapa selama ini juga sudah menjadi sektor unggulan di Riau. Karena itu, sedang disusun kerja sama dengan pemerintah pusat dalam program hilirisasi dan peremajaan perkebunan kelapa.
Sesuai dengan strategi nasional, kata Syahrial, kota Pekanbaru akan mendapat pabrik nata de coco. Sedangkan tiga pabrik lagi dibangun di Inhil. Pabrik-pabrik ini diperkirakan akan membutuhkan 22.000 pekerja.
Sebenarnya hilirisasi kelapa telah dilakukan di Riau sejak masa Orde Baru. PT Pulau Sambu di Pulau Guntung, Inhil mendirikan pabrik nata de coco, santan, tepung kelapa, dan berbagai produk berbahan kelapa lainnya, sebelum ada daerah lain yang membuatnya.
Perusahaan milik Tay Juhana ini sukses memasarkan produknya. Tak hanya di dalam negeri. Tapi juga untuk ekspor.
Sayang, keberhasilan PT Pulau Sambu yang sukses menghasilkan produk-produk berkualitas itu tak memberikan daya pikat bagi investor lain untuk menghasilkan produk yang sama. Padahal bahan bakunya melimpah di kabupaten Inhil.
Di sekitaran kota Tembilahan sebenarnya pernah didirikan beberapa kilang pengolahan sabut kelapa. Bahkan ada yang investornya berasal dari Malaysia. Sayang, bisnis tersebut ibarat judul sebuah lagu lama: Layu Sebelum Berkembang.
Ironisnya lagi, di Asahan, Sumatera Utara, yang kelapanya lebih sedikit, sudah mampu mengekspor ke Malaysia kelapa yang sudah dikeluarkan dari batoknya. Mereka sebut dikoncet. Pengoncetan dilakukan oleh para ibu rumahtangga, sehingga dapat menambah penghasilan keluarga. Tempurungnya pun masih laku dijual.
Sementara di Inhil kelapa yang dieskpor ke Malaysia umumnya masih dalam bentuk bulat terbungkus batok kelapa. Ini berarti sama sekali belum ada rantai hilirisasi yang dapat memberikan nilai tambah.
Semoga Riau bisa lebih cepat mengikuti hilirisasi perkelapaan yang lebih maju, sehingga tak ketinggalan dari Asahan, Lampung, dan mungkin juga Sumbar. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.