
JAKARTA – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi dan menjadi sorotan pelaku pasar. Bukan sekadar tren sesaat, lonjakan harga logam mulia kali ini mencerminkan ketidakpastian global yang mendorong masyarakat dan investor menjadikan emas sebagai aset perlindungan.
Di pasar domestik, harga emas Antam sudah menembus Rp 2.198.000 per gram. Sementara di level global, harga emas mendekati US$ 3.800 per troy ons dan diperkirakan bisa menembus US$ 3.850 hingga akhir tahun.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut dua faktor utama pendorong penguatan emas: melemahnya kondisi ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik. “Ketegangan ini yang membuat harga emas berlanjut. Sekarang sudah hampir mendekati US$ 3.800 per troy ons, tinggal US$ 7 lagi,” jelasnya.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan Eropa, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve, membuat emas semakin dipandang sebagai aset aman. Kondisi ini diperparah dengan melemahnya rupiah yang kini mendekati Rp 16.800 per dolar AS.
“Ketika emas dunia naik dan rupiah melemah, otomatis harga emas domestik ikut melambung,” tambah Ibrahim.
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai tren ini akan terus berlanjut, meski masih ada batasan. “Harga emas global bisa tembus US$ 3.800 per troy ons, tapi untuk harga domestik sulit menembus Rp 2,400.000 per gram. Bank Indonesia pasti akan melakukan intervensi agar pelemahan rupiah tidak berlarut,” terangnya.
Lonjakan harga emas menunjukkan satu hal: di tengah ketidakpastian global, emas kembali mengambil peran klasiknya sebagai aset lindung nilai. Bagi banyak masyarakat, logam mulia bukan sekadar investasi, tapi juga benteng pertahanan menghadapi gejolak ekonomi dunia. ***