
SELATPANJANG - Pakar lingkungan DR Elviriadi MSi menilai kerusakan gambut yang memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan banjir bandang di Provinsi Riau adalah akibat dari perselingkuhan ilmuan dengan pihak yang merusak gambut. Laki-laki bertubuh tambun itu mengaku sering menjumpai para ilmuan terkesan memback-up perusahaan perusak gambut dan lingkungan di Provinsi Riau.
Hal itu diungkapkan Elviriadi ketika berbincang-bincang dengan GoRiau, Sabtu (11/2/2017). Kata Elviriadi, sering menjumpai para ilmuan, khususnya bidang sumber daya alam, kehutanan, sosiologi, dan lainnya memback-up perusahaan perusak gambut dan lingkungan hidup di Provinsi Riau. Ia pun menduga bahwa motifnya tak lain tak bukan adalah masalah uang. Demi angka-angka itu, oknum Ilmuan dengan sengaja melelang marwah dan integritas keilmuannya.
Baca Juga: Elviriadi Akui Perlawanan Publik Atas Kerusakan Lingkungan Lebih Sistematis
"Akibat dari keberpihakan orang berilmu, pihak perusak lingkungan dan birokrat korup dapat angin segar dan legitimasi yang kuat. Sebab, yang mendukung rata-rata bergelar profesor doktor," kata aktivis 98 itu kepada GoRiau.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Ditambahkan Dosen UIN Suska Riau ini lagi, sekira satu minggu yang lalu, ada segerombolan ilmuan datang ke kampus terkemuka di Provinsi Riau. Gerombolan ilmuan itu mau merevisi PP 71/2014 tentang perlindungan gambut. Mereka mati-matian bersekongkol untuk membela industri kayu. "Kok nggak bicara ilmu dan wacana ilmiah," kata Elv dengan nada bertanya-tanya.
Terkait kejadian itu, Elviriadi juga menjelaskan bahwa di dalam agama telah diterangkan, yang mana dikatakan kalau orang berilmu (cendekiawan) yang rusak, maka efek dahsyatnya masyarakat dan lingkungan hidup akan binasa. "Bayangkan di Pulau Padang, Kabupaten Meranti, itu ratusan masyarakat dirampok kebunnya oleh perusahaan, ya karena ilmuan itu mendukung. Bahkan ada dosen Riau yang pasang badan untuk membenarkan SP3 terhadap belasan perusahaan tahun 2016 kemarin," kata Elv lagi.
Baca Juga: Abrasi Kian Meluas, Elviriadi: Meranti Harus Segera Lakukan Konservasi
Elv juga menegaskan bahwa saat ini belum terlambat untuk kembali ke pangkal jalan. Katanya, pertama syukuri kedudukan sebagai akademisi yang gaji cukup besar. Menurut Elv, seorang guru besar di kampus bisa mendapatkan penghasilan sekitar 27 juta setiap bulan. Belum lagi ditambahkan dengan penelitian kampus dan funding internasional. Ia pun menyarankan agar ilmuan tak tergiur atas angka-angka 'haram' dan merusak alam lagi. Kedua, Ilmuan harus kembali ke khittah sebagai civil society yang menjadi pengontrol kerusakan bangsa. Di era 50-an, kata Elv, Indonesia disegani dunia dan ditakuti kapitalis, karena Soedjatmoko, Agus Salim, Sutan Syahrir, Bung Hatta, dan Buya Hamka berpihak ke rakyat. "Mereka bukan ilmuan cap kumbang yang murahan," tukas laki-laki asal Kepulauan Meranti itu.
"Nah, sekarang di Sumatera dan Kalimantan kerusakan gambut sudah susah dipulihkan. Sementara di Riau, pori pori gambut yang subsiden sudah diisi air hujan. Berarti musim hujan, banjir bandang datang. Ketika kemarau, hotspot menggila. Kita tunggu taubat dan kiprah pembelaan ilmuan salah kaprah tersebut," ketus dosen UIN Suska itu mengakhiri wawancara. *** #Semua Berita Kep Meranti, Klik di Sini