
JAKARTA - Pemerintah terus memacu performa ekspor barang perhiasan dan barang berharga melalui penguatan kualitas produk, inovasi desain, dan keberlanjutan usaha. Langkah strategis ini sukses membuat nilai ekspor menembus angka US$ 9,1 miliar sepanjang Januari—Desember 2025, atau melonjak drastis sebesar 64,73 persen secara tahunan.
Sektor ini kini menjadi pilar penting yang memiliki nilai tambah tinggi bagi ekspor manufaktur Indonesia.
"Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia memiliki prospek yang sangat baik," kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Kontribusi Besar dan Tantangan Industri
Selain menjadi lumbung devisa negara, industri ini memegang peran krusial dalam menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah sekaligus melestarikan produk bernilai budaya.
Namun, pergerakan sektor ini tidak lepas dari berbagai rintangan. Agus memaparkan bahwa pelaku usaha masih harus berhadapan dengan sejumlah tantangan, meliputi:
Transformasi Industri 4.0
Menjawab tantangan digitalisasi, Kementerian Perindustrian mengambil langkah proaktif dengan melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Evaluasi ini menyasar sejumlah perusahaan sektor industri aneka, termasuk para pelaku industri logam mulia dan perhiasan.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), Reni Yanita menegaskan bahwa implementasi industri 4.0 merupakan faktor kunci untuk memperkuat daya saing. Pemanfaatan teknologi diklaim mampu mempercepat inovasi, meningkatkan efisiensi operasional, dan menghasilkan kualitas produk sesuai kebutuhan pasar dunia.
Hasil penilaian INDI 4.0 membuktikan sektor ini mampu mengawinkan teknologi modern dengan keterampilan sumber daya manusia secara kreatif.
"Kami berharap semakin banyak pelaku industri yang melakukan transformasi serupa guna meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing produknya," papar Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), Reni Yanita.***