
GARUT - Pemerintah memutuskan menutup semua sekolah sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran virus corona. Sebagai gantinya, guru diinstruksikan melaksanakan sistem belajar daring (online).
Namun tidak semua siswa, apa lagi di daerah pelosok, yang bisa mengikuti sistem belajar online tersebut. Sebab, belajar daring mengharuskan siswa memiliki ponsel atau gawai yang memiliki fitur internet. Padahal, tidak semua siswa memiliki ponsel.
Mungkin hanya sedikit guru yang menyadari dan memikirkan kondisi siswa yang tidakmemiliki ponsel untuk sarana belajar daring itu. Dua dari sedikit guru tersebut adalah Ujang Setiawan Firdaus dan Rosita Amelia.
Dikutip dari merdeka.com, Ujang Setiawan Firdaus merupakan guru SDN Purbayani 1, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, sedangkan Rosita Amelia merupakan guru honorer SDN 3 Nyalindung, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.
Menyadari siswanya tidak memiliki gawai dan terbatasnya sinyal internet dan televisi, kedua guru tersebut setiap hari berkeliling ke rumah siswa-siswanya untuk mengajar.
Ujang Setiawan Firdaus, mengaku sejak sekolah diliburkan akibat pandemi Covid-19, dalam seminggu ia bisa berkeliling ke enam kampung, tempat murid-muridnya tinggal. Setiap harinya ia mengunjungi kampung berbeda, dan mengajar di salah satu rumah muridnya.
''Walau Kemendikbud sudah menyiapkan fasilitas pembelajaran melalui saluran televisi di TVRI, siswa-siswa saya ini tidak bisa mengaksesnya karena tidak tertangkap salurannya. Namanya juga di pelosok, walau pakai parabola,'' ujarnya, Sabtu (18/4).
Sebelum mulai mengajar, Ujang mempersiapkan media pembelajaran berupa fotokopi materi ajar yang akan disampaikan kepada para siswa. Meski harus mengeluarkan uang dari sakunya untuk mem-fotokopi materi belajar, Ujang tidak berniat meminta para siswa untuk membayarnya.
Dia juga harus rela merogoh uang membeli bensin motor untuk keluar masuk kampung mendatangi rumah murid-muridnya.
''Saya tidak merasa keberatan, selama murid-murid saya masih bisa belajar dan mendapatkan pelajaran,'' ucapnya.
Terpenting, kata dia, anak didiknya tetap bisa belajar meski harus beralih ke rumah karena masa pandemi.
''Sehari saya bisa membawa empat salinan materi. Jadi murid saya yang tinggal di satu kampung dikumpulkan di satu rumah siswa lalu belajar dengan santai dan riang gembira. Selain itu juga bisa bersilaturahim dengan orangtua siswa. Tidak jarang juga kalau sedang ngajar disuguhi berbagai makanan. Kalau pulang juga malah dibekalkan makanannya,'' kelakar Ujang.
Walau saat belajar para siswanya tidak menggunakan meja, kursi, hingga papan tulis, menurutnya para siswa tetap semangat. Dia akuinya, murid-murid sudah rindu kembali ke sekolah.
Dia berharap guru-guru lain melakukan hal yang sama. Sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasanya.
''Bukan mau sombong, tapi para siswa ini memang harus tetap belajar untuk mendapatkan ilmu meski di tengah situasi seperti sekarang ini,'' kata Ujang.
Meski ada lima guru PNS dan enam guru honorer di sekolahnya, Ujang mengaku hanya dirinya yang melakukan kegiatan mengajar langsung ke rumah siswa.
Berjalan Kaki 5 Kilometer
Cara belajar yang diterapkan Ujang juga dilakukan Rosita Amelia. Guru honorer di SDN 3 Nyalindung, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut ini juga mendatangi rumah siswanya untuk mengajar.
''Kita di sini tidak ada fasilitas untuk belajar secara daring. Jadinya ya saya harus bergerak menemui siswa untuk mengajar,'' katanya.
Selain terbatasnya fasilitas daring, saluran televisi di tempatnya tidak selalu optimal. ''Jadinya mendatangi langsung menjadi jalan satu-satunya agar siswa tetap belajar,'' ungkap Rosita.
Setiap harinya, Rosita harus menguatkan kaki berjalan 5 kilometer agar siswanya bisa belajar secara bergantian di rumah 12 siswanya. Pengumpulan siswa di satu titik tidak mungkin dilakukan karena lokasinya berjauhan.***