PEKANBARU -Dibalik rimbunnya area konservasi hutan tanaman industri, terjalin hubungan emosional yang erat antara manusia dan satwa raksasa berbelalai. Unit Konservasi Gajah (UKG) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Ukui menjadi rumah yang damai bagi tujuh ekor gajah binaan. Kamis (26/2/2026), rutinitas pagi dimulai dengan interaksi hangat antara mahout atau pawang dengan gajah-gajah yang telah menjadi bagian dari keluarga besar mereka.

Dengan nama awal, Elephant Flying Squad (EFS) yang didirikan pada tahun 2006 dan kawasan ini tidak hanya menjadi tempat perlindungan, tetapi juga saksi lahirnya generasi-generasi baru gajah Sumatera. Asisten Kepala UKG RAPP, Angga Devila Yolanda, menceritakan bahwa dari tujuh gajah tersebut, beberapa di antaranya adalah generasi kedua dan ketiga yang lahir secara alami di sana.

"Carmen, salah satu gajah kami, lahir pada tahun 2009. Ia adalah anak dari Merry. Kemudian, Karmen melahirkan anak bernama April pada tahun 2023. Ada juga Raja Arman yang lahir pada tahun 2011 dari induk bernama Mira. Kelahiran ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami," ujar Angga.

Aktivitas harian di kawasan ini sangat terstruktur namun mengedepankan kesejahteraan satwa. Sembilan orang mahout berdedikasi penuh merawat gajah-gajah tersebut. Setiap pagi, gajah dimandikan dan diajak berjalan-jalan atau diangon ke area green belt dan riparian (tepian sungai) untuk mencari makan.

GoRiau

"Tugas utama kami adalah memastikan gajah sehat dan terawat. Kami membawa mereka mencari sumber makanan dan air di alam. Selain itu, gajah juga dilatih merespons aba-aba dasar agar mudah diarahkan," jelas Angga.

Perawatan kesehatan juga menjadi prioritas utama. RAPP bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap tahun, termasuk pengecekan darah, pemberian vitamin B kompleks, obat cacing, hingga pemeriksaan ultrasonography (USG) jika ada indikasi gajah betina sedang bunting. Untuk menjaga suasana hati dan nafsu makan, gajah sering diberi pakan tambahan atau puding berupa gula merah murni.

Asisten Lingkungan, Joko Prasetyo, mengungkapkan bahwa menjadi seorang mahout membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; ia menuntut kasih sayang dan pemahaman mendalam tentang karakter satwa.

GoRiau

"Menjadi mahout itu harus sayang hewan dan mengerti suasana hati gajah. Ketika musim kawin tiba, kami harus lebih waspada karena gajah jantan cenderung lebih agresif. Sukanya bekerja di sini adalah ketika melihat gajah yang kita rawat sejak lama berhasil melahirkan, ada kepuasan batin yang luar biasa," urai Joko.

Harmoni tidak hanya dijaga antara mahout dan gajah binaan, tetapi juga dengan gajah liar yang kerap melintasi koridor area konservasi tersebut. Manajemen RAPP menerapkan protokol ketat untuk menghindari konflik. Jika pekerja di lapangan mendeteksi kehadiran rombongan gajah liar dari jejak kaki atau kotoran, seluruh aktivitas operasional akan dihentikan sementara.

"Bagi kami, gajah adalah prioritas utama. Jika gajah liar sedang melintas atau bahkan berdiam lama untuk grooming dan menyusui anaknya, kami akan memundurkan alat berat dan menunggu sampai mereka benar-benar lewat dengan aman. Tidak ada aktivitas konfrontasi, sehingga gajah liar pun tidak merasa terancam dan tidak agresif terhadap manusia," tambah Angga.

Menariknya, interaksi alami yang difasilitasi oleh lingkungan yang terjaga ini sering kali membawa kejutan membahagiakan. Kelahiran bayi gajah seperti April diduga kuat merupakan hasil perkawinan alami antara Karmen dengan gajah liar jantan yang melintas di kawasan tersebut. Keberhasilan ini membuktikan bahwa area konservasi bernilai tinggi (High Conservation Value) yang dipertahankan terintegrasi dengan baik dan berfungsi efektif sebagai habitat yang aman. ***