
PEKANBARU, GORIAU.COM - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau, Lenna Farida dan Heriyanti Hasan urungkan niat untuk menjumpai massa yang berasal dari mahasiswa Rokan Hulu.
Batalnya dua Komisioner tersebut memberikan penjelasan terkait DPT lima desa yang menjadi sengketa Kabupaten Rokan Hulu dan Kampar akibat kurangnya etika demonstran dalam menyampaikan pendapat. Baik Lenna maupun Heriyanti menilai massa tidak ber etika.
"Ngapain kita temui mereka, kita tadi sudah baik-baik. Tapi, mereka tidak mau. Malahan ngomongnya kasar gitu, tidak mencerminkan sebagai mahasiswa," kesal Lenna di Ruang Sekretariat kepada GoRiau.com, Kamis (24/10/2013).
Ia membandingkan antara unjuk rasa yang dilakukan masyarakat yang berasal dari lima desa tersebut. Dari segi etika, Lenna menyanjung mereka. Lain halnya dengan Himarohu yang hanya berjumlah belasan. "Kemaren hampir seribu, tidak ada seperti ini. Kita layani dengan baik, ini hanya belasan," lanjutnya.
Hal yang sama juga diutarakan oleh Heriyanti Hasan, Ia menilai aksi yang dilakukan Himarohu tidak mencerminkan kaum intelektual. "Orang kampung saja, ada etikanya. Ini mahasiswa, seperti orang tak kuliah saja," katanya.
"Ogah ah.. Malas lagi," jawab Heriyanti saat ditanya apakah ia benar-benar tidak ingin memberi penjelasan.
Walau demikian, Lenna dan Heriyanti sudah menerima pernyataan sikap demonstran. Mereka menilai, tuntutan Himarohu hari ini sama dengan tuntutan masyarakat yang aksi kemaren. "Secara umum sama," ujar Lenna.
"Semua ini akan kita sampaikan kepada ketua, dan besok akan kita bahas," beber Lenna tentang tindak lanjut dari tuntutan massa.
Dalam aksi tersebut, sebetulnya Komisioner KPU Riau sudah beritikad untuk menemui massa. Buktinya, Lenna dan Heriyanti sudah berada di depan demonstran. Namun sayang, mereka kecewa dengan sikap mahasiswa. Akhirnya, mereka kembali ke ruangan.(san)