TERLAHIR dengan kulit putih bersih dan bermata sipit, sosok Darusman yang kini menjabat sebagai Kepala Biro Humas, Protokol dan Kerjasama Sekretaris Daerah (Setdaprov) Provinsi Riau dulunya sewaktu kecil dijuluki Aseng. Pria kelahiran Tanjungpinang pada 14 Desember 1959 yang silam ini merupakan anak dari pasangan almarhum Matusin Zahari dan Hj Norma yang pada saat itu hanya mengandalkan gaji sebagai pegawai negeri sipil dan berkebun untuk menghidupi ketujuh anaknya.

"Di sekolah disangka anak Cina, iya pulaknya saya putih dan sipit. Sering dipanggil Aseng," kata Darusman membuka pembicaraan ketika bercerita mengenai perjalanan hidupnya kepada GoRiau.com di ruang kerjanya belum lama ini.

Tinggal di daerah perairan Tanjungpinang dan sering melihat marinir bertugas dengan gagah, berawal dari sinilah Aseng alias Darusman kecil bermimpi ingin menjadi marinir untuk mengamankan wilayah laut yang berada di kampungnya.

"Belum paham marinir itu kerjanya ngapain aja. Tahunya ya gagah aja naik kapal di laut," kenang Darusman yang mengaku bandel dan sering dimarahi orangtuanya karena suka mandi di laut.

Kebiasaannya usai menempuh perjalanan berjalan kaki kurang lebih satu kilometer sepulang dari sekolah, Darusman selalu pergi bermain ke laut bersama teman-temannya. Bahkan, ia pun tak kapok-kapoknya berenang dan mandi di laut meskipun salah satu diantara tiga temannya semasa kecil pernah meninggal karena tenggelam.

"Kalau main ke laut sering dimarahi, karena dulu ada teman kami yang meninggal. Kami kan karena kecil di dekat laut, ya mainnya di laut. Kadang berenang itu pakai terjun-terjun dari kapal," ulasnya.

Saking bandelnya, Darusman sering dihukum orang tuanya tidak diizinkan keluar rumah. Ia dihukum untuk fokus belajar dan mengaji di surau ditemani rotan yang kadang kala dilibas ke tangannya.

"Sampai dihukum biar nggak bandel lagi. Nggak boleh keluar rumah, kecuali ngaji di surau. Guru ngajinya pegang rotan untuk mengatasi kami yang bandel. Makanya dari kecil yang namanya mengaji itu sudah rutinitas, sampai berkali-kali khatam al-quran. Hukumannya ngaji, ngaji dan ngaji," urainya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/09012017/darusmanfg-5498.jpg

Masa-masa kehidupan sebagai anak laut itu pun dijalani Darusman mulai dari menuntut ilmu di SDN 07 Tanjung Pinang (1972), berlanjut ke SMPN 2 Tanjung (1975) dan menamatkan sekolah menengah atasnya di SMAN 1 Tanjung (1980).

"Lulus SMA mau menyambung pendidikan ke luar daerah. Jadi orang tua selalu berpesan agar selalu berbuat baik dan jujur di rantau. Almarhum bapak juga menasehati agar saya selalu berbuat baik, karena dimana pun kita berada kalau kita berbuat baik pasti tidak akan ada orang yang berniat jahat kepada kita," urai Kabiro Humas, Protokol dan Kerjasama Setdaprov Riau ini.

Gagal Sekolah di Akademi Kemaritiman dan Masuk APDN

Selepas SMA, Darusman sempat mendaftarkan diri ke Sekolah Akademi Kemaritiman di Jakarta. Sayangnya, jalan hidupnya berkata lain. Ia gagal masuk sekolah kemaritiman dan terpaksa membuang jauh cita-citanya semasa kecil untuk menjadi marinir.

"Gagal sekolah maritim, saya ikut tes APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) di Pekanbaru atas anjuran kakak dan lulus tahun 1988. Seterusnya lanjut di Universitas Riau ambil Jurusan Ilmu Sosial dan Politik lulus tahun 2004," ungkap anak kedua dari tujuh bersaudara ini.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/09012017/darusmanda-5497.jpgDarusman dan ibu.

Usai menempuh pendidikannya di APDN, Darusman memulai karirnya dengan menjadi calon pegawai negeri sipil dan Mantri Polisi (Mapol) Pamong Praja di Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru (1989). Dua tahun setelahnya, ia terpilih menjadi Lurah Simpang Tiga di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru selama tujuh tahun mulai 2000 hingga 2007. Lalu pada tahun 2011-2012, ia berhasil menjadi Kasubag Kesra Sosial di Biro Kesra Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.

"Gaji pertama saya sewaktu masih menjadi calon PNS sebesar Rp21.200," ucapnya.

Sesudahnya, Darusman menduduki jabatan sebagai Kabag Publikasi Biro Humas Setdaprov Riau mulai 2013-2014. Ia pun sempat terdampar menjadi Kabag Pengelola Perbatasan BPPD Provinsi Riau selama satu bulan 17 hari pada tahun 2014.

"Hingga akhirnya ikut asessment dan terpilih menjadi Kepala Biro Humas. Dilantik pada 28 Maret 2015 kalau tak salah," kata pria berusia 58 tahun ini mencoba mengingat-ingat.

Membina Rumah Tangga

Berbekal gaji RpRp21.200 setiap bulannya, Darusman memberanikan diri untuk membina rumah tangganya bersama Arbaina Yati pada bulan Oktober 1980. Yang mana, ia terpaut hatinya pada sosok Arbaina, gadis asal Kuantan Singingi (Kuansing) yang ditemuinya saat sama-sama mengikuti pendidikan teknisi sesama calon pegawai negeri sipil.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/09012017/darusmanda-5496.jpgDarusman dan cucu

Baginya, Arbaina Yati merupakan sosok istri yang setia mendampinginya dalam suka maupun duka hingga dikarunia tiga anak, yakni Ading Januandri ST MBA, Adek Juniandry ST, dan Adrina Oktriana SE.

"Sekarang kami sudah punya cucu, tiga cowok dan satu perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami dimasa tua mendatang. Dari kecil saya dimanja nenek dan kakek, sekarang saya begitu juga dengan cucu," ungkapnya.

Dipercaya Jadi Kabiro Humas OPD Baru

Berkat komitmennya dalam menjalankan amanah sebagai Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Darusman pun kembali dipercaya oleh Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rachman untuk menjadi kepala biro dalam OPD baru yang diberlakukan pada tahun 2017, yakni Kepala Biro Humas, Protokol dan Kerjasama Setdaprov Riau.

"Jabatan itu amanah. Kalau dipercaya oleh pimpinan, berarti kita harus jaga dan jalankan amanah itu sebaik mungkin. Mudah-mudahan tugas-tugas kehumasan berjalan dengan baik. Saya mohon dukungan teman-teman wartawan," tutupnya. ***