BENGKALIS, GORIAU.COM - Program Rintisan Jaringan Cyber Education diingatkan jangan sampai gagal di tengah jalan. Program tersebut dinilai memberikan dampak yang positif bagi para siswa, bukan hanya dari sisi kemudahan dalam belajar melainkan juga menambah wawasan bidang informasi teknologi.

“Kita di DPRD Bengkalis sangat mendukung program tersebut. Apalagi dari informasi yang kita terima, Bengkalis merupakan kabupaten pertama di Riau yang menerapkan teknologi tersebut. Jangan sampai program yang bagus ini berhenti di tengah jalan,” ujar Sekretaris Komisi IV DPRD Bengkalis, HA Rahman Jantan, Jumat (29/3/2013).

Seiring dengan kemajuan teknologi mau tidak mau, para siswa harus diperkenalkan dengan teknologi IT. Memang, di daerah perkotaan dunia internet bukanlah barang baru. Mereka sudah terbiasa memanfaatkan internet untuk belajar maupuan sekedar bersenang-senang. Bahkan, dengan teknologi internet, mereka juga sudah biasa melakukan pembicaraan jarak jauh melalui face to face, baik itu melalui Skype, YM, G-Talk, Camfrog dan lain-lain.

“RJCE sebenarnya bukan hal yang sulit untuk diaplikasikan. Asalkan infrasturktur yang dibangun oleh Pemkab Bengkalis dalam hal ini melalui Dinas Pendidikan cukup kuat, maka para anak didik kita akan dengan mudah mempelajarinya. Sekarang persoalannya adalah sejauh mana upaya dari Dinas Pendidikan dalam mempersiapkan infrastruktur tersebut,” papar Rahman.

Membangun infrastruktur IT menurut Rahman sebenarnya tidak sulit. Sejauh ada anggaran yang memadai, maka infarstruktur seperti BTS, repeater, maupun server akan bisa dibangun. Umumnya yang menjadi masalah adalah ketika semua sudah dibangun tapi maintenance tidak memadai, sehingga akan berdampak kepada kerusakan-kerusakan yang berujung pada kegagalan sistem.

“Kita di Komisi IV berharap kepada Dinas Pendidikan untuk mempersiapkan secara matang semua kebutuhan untuk susksesnya program RJCE ini. Harapan kita, bukan hanya belasan SD, SLTP maupun SLTA yang bisa menggunakan sistem ini, tapi kalau memungkinkan semuanya. Jadi Bengkalis bisa menjadi percontohan bagi kabupaten/kota lain. Sekaligus makin mendekatkan Bengkalis untuk mencapai visi menjadikan Bengkalis sebagai Kota Pendidikan,” papar Rahman.

Rahman juga mengingatkan kepada Dinas Pendidikan untuk melakukan pendataan secara holistik terhadap sarana pendidikan, baik itu sekolah maupun rumah dinas. Dirinya melihat, hampir di semua kecamatan, sarana pendidikan menjadi persoalan serius karena banyak yang rusak dan tidak layak lagi untuk dipergunakan. Kalau sarana pendidikan saja sudah seperti itu, maka dirinya khuatir akan berdampak kepada psikologis guru.

“Bisa saja semangat guru untuk mengajar menjadi berkurang. Kalau sudah seperti ini, tentu upaya Pemkab dalam menerapkan cyber education tidak optimal,” tutupnya. (jfk)