PEKANBARU –Pelatih senior cabang olahraga tinju Riau, Darman Hutauruk, mengatakan keterlambatan pencairan sisa bonus atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumatera Utara 2024 dan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) telah berdampak terhadap kehidupan para atlet. Menurut dia, hingga kini masih ada sekitar 57 persen bonus yang belum dibayarkan Pemerintah Provinsi Riau.

Darman menyampaikan hal itu saat mendampingi aksi damai puluhan atlet dan pelatih di gerbang Stadion Utama Riau, Kamis, 6 Agustus 2026. Aksi tersebut digelar bersamaan dengan kegiatan senam pagi Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau yang dihadiri jajaran pemerintah daerah. Para atlet menuntut pemerintah segera merealisasikan sisa bonus yang telah dijanjikan sejak dua tahun lalu.

"Yang sudah diselesaikan pada 2025 itu sekitar 43 persen. Berarti masih ada 57 persen lagi yang belum diselesaikan. Waktu itu dijanjikan selesai sebelum Lebaran, kemudian bergeser lagi. Katanya sekitar Juni atau Juli. Sampai sekarang belum juga ada penyelesaian," kata Darman kepada wartawan.

Menurut Darman, keterlambatan itu bukan hanya persoalan administrasi, tetapi telah memengaruhi kehidupan para atlet. Banyak atlet, kata dia, belum memiliki pekerjaan tetap sehingga bonus yang dijanjikan sangat mereka harapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menunjang persiapan latihan menghadapi Pra-PON menuju PON 2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

"Atlet ini sudah memberikan yang terbaik untuk Provinsi Riau. Banyak yang belum bekerja, ada yang mencari nafkah serabutan. Kalau bonus itu diterima, tentu bisa membantu kehidupan mereka dan mereka bisa fokus berlatih lagi. Tahun depan sudah ada Pra-PON. Kalau lolos, mereka akan bertanding lagi di PON 2028. Persiapannya tidak bisa instan," ujarnya.

Darman memperkirakan sekitar 200 atlet dan pelatih masih menunggu pelunasan bonus tersebut. Nilai yang diterima setiap penerima berbeda-beda karena bergantung pada cabang olahraga dan jenis medali yang diraih, baik nomor perorangan maupun beregu.

Menanggapi alasan pemerintah yang menyebut keterbatasan anggaran akibat defisit keuangan daerah, Darman mengaku memahami kondisi fiskal yang dihadapi pemerintah. Namun, ia mempertanyakan mengapa hanya Riau yang belum menuntaskan pembayaran bonus atlet, sementara sejumlah provinsi lain telah menyelesaikannya sejak tahun lalu.

"Kami tahu banyak daerah mengalami defisit anggaran. Tapi kenapa hanya Riau yang belum selesai? Tetangga kita Sumatera Barat sudah menuntaskan bonus atletnya sejak 2025. Harapan kami sederhana, kalau anggarannya sudah tersedia, langsung saja diberikan kepada atlet. Mereka tidak meminta-minta. Mereka hanya menuntut hak yang memang sudah menjadi haknya," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya melihat perjuangan para atlet yang rela datang dari berbagai daerah ke Pekanbaru untuk menyuarakan aspirasi. Sebagian bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri demi memperjuangkan bonus yang belum kunjung diterima.

"Saya jujur, tadi hampir menangis melihat mereka datang dari jauh. Mereka berjuang demi haknya. Mereka bukan meminta belas kasihan, tetapi meminta hak yang dijanjikan setelah mengharumkan nama Riau," kata Darman.

Terkait absennya Gubernur Riau menemui massa aksi, Darman memilih menghormati keputusan pemerintah yang mendelegasikan pertemuan kepada Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah komitmen pemerintah untuk segera merealisasikan sisa bonus tersebut.

"Saya tidak mempermasalahkan siapa yang menemui kami. Yang penting komitmennya jelas. Tadi Kadispora sudah menyampaikan bahwa kalau anggarannya sudah ada, bonus akan segera dibayarkan. Itu yang kami pegang," ujarnya.

Darman juga mengakui banyak atlet Riau mulai dilirik daerah lain untuk bergabung. Meski demikian, menurut dia, sebagian besar atlet masih memilih bertahan dan berharap Pemerintah Provinsi Riau segera memenuhi janji pembayaran bonus yang telah lama mereka nantikan. ***