
PEKANBARU - Momen Peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau pada Minggu (9/8/2026) menjadi ajang berkumpulnya para pemimpin daerah terdahulu. Dalam balutan busana Melayu abu-abu lengkap dengan songket dan tanjak hitam, delapan tokoh yang pernah memimpin Riau hadir membawa visi senada: mendorong keberlanjutan pembangunan, memperkuat infrastruktur, serta memberdayakan ekonomi masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan dan Konektivitas
Gubernur Riau periode 1998-2003, Saleh Djasit menyoroti pentingnya konsistensi pemimpin daerah saat ini dalam meneruskan program-program pendahulunya. Langkah ini dinilai vital agar penyempurnaan pembangunan bisa berjalan maksimal dan tidak terputus di tengah jalan.
"Apa yang masih kurang pada masa sebelumnya dapat disempurnakan sekarang, kemudian diteruskan lagi oleh pemimpin berikutnya sehingga pembangunan Riau berlangsung secara berkesinambungan," harapnya.
Fokus pada kelanjutan infrastruktur juga ditegaskan oleh Wan Thamrin Hasyim. Ia memprioritaskan peningkatan konektivitas antarwilayah, seperti pembangunan jalan penghubung Bagan Siapi-api dengan Dumai serta pengembangan jaringan jalan tol yang diyakini mampu mempercepat roda ekonomi daerah.
"Pembangunan konektivitas antarwilayah terus dilanjutkan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat," urainya.
Sejalan dengan itu, Annas Maamun merinci sektor-sektor mendasar yang patut mendapat sentuhan langsung dari pemerintah provinsi, menyentuh hingga ke pelosok daerah.
"Jalan ke daerah dibaguskan, akses kesehatan diperbaiki, kualitas pendidikan ditingkatkan. Kalau ada duit berlebih ya dibaguskan pula rumah ibadah," paparnya.
Pemberdayaan Ekonomi dan Penguatan UMKM
Dari sisi perekonomian, Arsyadjuliandi Rachman mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Riau tidak boleh hanya bergantung pada korporasi atau usaha berskala besar. Ia mendorong tiga langkah strategis untuk mengangkat derajat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia, perumusan regulasi yang berpihak, serta intervensi modal dari perbankan.
"Ini tentu harus kita dorong, dengan cara mempersiapkan kelembagaan dan sumberdaya ditingkatkan. Dan mempersiapkan regulasi yang berpihak dengan UMKM," jelasnya.
Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Riau juga menjadi perhatian serius Mambang Mit. Ia menuntut agar limpahan kekayaan alam tersebut berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat di seluruh penjuru Riau.
"Daerah kita adalah daerah kaya, jadi masyarakat harus bisa merasakannya," tegasnya.
Persatuan Riau dalam Keberagaman
Tantangan Riau ke depan dinilai tidak sekadar berkutat pada fisik bangunan dan angka ekonomi, tetapi juga menjaga kohesi sosial masyarakatnya. Wan Abubakar memandang usia ke-69 ini sebagai momentum strategis untuk kembali merajut persatuan di tengah kemajemukan warga bumi lancang kuning.
"Mari bersatu memajukan Riau ini, bersatu dalam keberagaman dan maju dalam pembangunan, karena masyarakat Riau yang majemuk tetap harus bersatu," tuturnya.
Pentingnya semangat kolaborasi ini turut disuarakan oleh Syamsuar dan Rahman Hadi. Keduanya sepakat bahwa kemajuan peradaban dan kualitas pelayanan publik di Riau hanya bisa dicapai jika pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat mau bahu-membahu bekerja sama memajukan negeri.
"Semoga Riau ke depan lebih bersatu dalam keragaman dan maju dalam pembangunan," imbuhnya.
"Kita berharap, semua masyarakat dapat berkolaborasi dan bahu membahu demi terwujudnya kesejahteraan bersama," pungkas Rahman Hadi.