
TELUKKUANTAN, GORIAU.COM - Petani di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau dipastikan akan gigit jari pada masa tanam kedua tahun ini. Pasalnya, hampir keseluruhan areal persawahan mengalami kekeringan, akibatnya padi tidak berkembang secara sempurna.
"Kami mulai bercocok tanam sejak Maret lalu, seharusnya padi saat ini sudah berbuah dan kami mulai panen," ujar Ujang salah seorang petani kepada GoRiau.com, Senin (10/8/2015) siang di Telukkuantan.
Namun, kata Ujang, padi yang ditanam tak kunjung berbuah. Jika ada yang berbuah, padi tersebut tidak berisi.
"Hanya sebagian kecil yang berbuah, itu pun kosong. Sementara, yang lainnya tak kunjung berbuah," ujar Ujang.
Lebih lanjut, ia mengatakan rata-rata daun padi berwarna kemerahan dan ada juga yang mati.
Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan (Distangan) Kuansing mencatat lebih dari 600 hektare padi yang mengalami kekeringan. Luas tersebut mencapai separuh dari luas areal yang ditanam.
"Untuk masa tanam kedua ini, hanya tiga kecamatan yakni Sentajo Raya, Kuantan Tengah dan Gunung Toar. Luasnya lebih dari 1.000 hektare," ujar Kepala Distangan Kuansing, Maisir.
Distangan, kata Maisir, sudah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu petani dalam mengatasi kekeringan ini. Salah satu yang dilakukan Distangan dengan menurunkan pompa air.
"Bagi daerah yang dekat dengan sumber air, kita langsung memompa air. Tapi, hal itu ternyata tidak cukup. Karena, tanahnya pecah-pecah. Jadi, berapapun banyak air yang kita masukkan, tetap tidak mampu mengatasi persoalan ini," ujar Maisir.
Ia menilai, kekeringan yang terjadi saat ini merupakan bencana dan cara mengatasi hanya dengan hujan.
"Kita tak bisa berbuat banyak, selain berdoa segera diturunkan hujan," pungkas Maisir.(***)