
MERANTI - Polda Riau bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menanam 1.200 bibit mangrove dan menyalurkan berbagai bantuan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir, Sabtu (8/8/2026). Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian Ekspedisi Merah Putih Presisi guna menahan laju abrasi sekaligus mendorong perekonomian nelayan setempat.
Perjalanan rombongan dimulai dari Mapolres Kepulauan Meranti, melintasi jalur laut menggunakan kempang menuju Pelabuhan Om Rin, dan berlanjut ke Pelabuhan Peranggas hingga tiba di Puskesmas Kedabu Rapat. Di lokasi ini, tim langsung membuka layanan cek kesehatan gratis dan melakukan penanaman pohon di area fasilitas kesehatan tersebut.
Setelah itu, rombongan bergerak ke Pos Satkamling Desa Kedabu Rapat. Di sana, mereka menyerahkan 100 lembar Bendera Merah Putih kepada kepala desa, serta mendistribusikan bantuan sosial dan mesin ketinting bagi masyarakat nelayan.
Kabid Teknologi Informasi dan Komunikasi Polda Riau, Kombes Pol Andi Yul Lapawesean Tenri Guling, menerangkan bahwa ekspedisi ini adalah program inisiasi Kapolda Riau yang difokuskan pada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Program berbasis Green Policing ini sudah berjalan sejak 1 Agustus dan akan memuncak pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026 mendatang.
"Kegiatan Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau bertujuan untuk menjembatani pelayanan kepolisian, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan nasionalisme di wilayah 3T," urainya.
Sinergi Menjaga Wilayah Perbatasan
Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, menyambut baik kehadiran pihak kepolisian di wilayah perbatasannya. Ia menilai sentuhan langsung dari negara sangat dibutuhkan mengingat kondisi infrastruktur, ekonomi, dan kesehatan di kepulauan yang masih terbatas.
"Keadaan di perbatasan ini tidak sedang baik-baik saja. Perlu sentuhan. Negara harus hadir di perbatasan ini," tegasnya.
Khusus mengenai abrasi yang melanda sejumlah titik di Pulau Rangsang, Muzamil mengajak seluruh elemen untuk terus berkolaborasi menanganinya secara bertahap.
Kondisi kritis tersebut dibenarkan oleh Kepala Desa Tanah Merah, Amansyah. Ia menyebut pengikisan daratan oleh air laut telah menjadi ancaman harian yang membahayakan permukiman penduduk.
"Desa kami menghadapi ancaman abrasi yang sangat serius setiap hari. Abrasi ini sangat mengikis daratan, mengancam pemukiman, dan meresahkan warga kami," keluhnya.
Ia berharap penanaman ribuan bibit mangrove ini dapat menjadi langkah awal penyelamatan daratan desa. Di sisi lain, Amansyah juga menyoroti bantuan mesin ketinting yang dinilai sangat tepat sasaran. Mengingat sekitar 90 persen warganya menggantungkan hidup di laut, bantuan peralatan tersebut diyakini akan langsung berdampak pada peningkatan hasil tangkapan nelayan. ***