
JAKARTA – Industri petrokimia di kawasan Asia saat ini menempati posisi sangat rentan akibat potensi gangguan logistik energi di Selat Hormuz. Ketergantungan yang amat tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah membuat sektor ini begitu sensitif merespons gejolak geopolitik.
"Industri petrokimia memiliki ketergantungan yang unik dibanding sektor lain. Tidak hanya membutuhkan energi seperti minyak mentah, LPG, dan LNG, sektor ini juga menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai bahan baku utama (feedstock) dalam proses produksi," papar analis dari Oxford Economics yang dikutip dari Dow Jones Newswires.
Hambatan distribusi laut tidak hanya memadamkan tungku pembakaran pabrik, tetapi juga menyetop ketersediaan bahan mentah untuk mencetak plastik, serat sintetis serta beragam bahan kimia.
Risiko yang dihadapi setiap negara bervariasi bergantung pada struktur energi domestiknya. Jepang dan Korea Selatan menjadi negara paling terpapar ancaman lantaran amat mengandalkan impor nafta dan LNG. Minimnya bahan pengganti di dalam negeri membuat manufaktur mereka sangat rapuh terhadap lonjakan harga maupun hambatan pengiriman fisik.
Sementara itu, China terlindungi sebagian karena mayoritas pabrik kimianya berbasis batu bara. Kendati demikian, kawasan industri pesisir negara tersebut tetap berada dalam bahaya karena masih menggantungkan nasib pada pasokan nafta, LPG dan LNG dari jalur perairan.
Sekitar 20 hingga 30 persen dari total perdagangan minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya. Ketergantungan banyak negara Asia terhadap jalur tersebut bahkan bisa melonjak menyentuh angka 70 persen.
Timur Tengah merupakan penyuplai terbesar nafta yang menjadi bahan baku utama etilena ke Asia. Gangguan pengiriman selama satu minggu saja diproyeksikan sanggup menghentikan operasional pabrik cracker di Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Petrokimia merupakan bagian hulu dari banyak sektor bisnis. Tersendatnya pengiriman di Selat Hormuz akan memicu efek domino berupa lonjakan harga pada barang konsumen, kemasan makanan hingga komponen otomotif secara global.
Laporan Dow Jones Newswires menyebutkan setiap hambatan di perairan tersebut tidak cuma menaikkan harga BBM, melainkan berpotensi melumpuhkan rantai pasok industri kimia luas yang menjadi urat nadi ekonomi manufaktur Asia.***