JAKARTA – Economic Outlook 2025 yang digelar oleh Bisnis Indonesia menjadi wadah diskusi strategis antara pemerintah dan pelaku usaha untuk merumuskan langkah konkret dalam memajukan perekonomian Indonesia, khususnya di tengah keterbatasan anggaran.

Kegiatan ini berlangsung serentak di 10 kota di Indonesia, termasuk Pekanbaru, Riau. Tahun ini, tema yang diangkat untuk Riau adalah “Memacu Perekonomian Riau di Tengah Keterbatasan Budget Pemerintah.”

Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia Pekanbaru, Aang Suherman, menegaskan bahwa forum ini bertujuan mencari solusi atas tantangan ekonomi yang dihadapi, termasuk minimnya anggaran pemerintah.

“Kami berupaya merumuskan strategi untuk mendorong perekonomian di tengah keterbatasan. Riau, misalnya, menghadapi proyeksi APBD 2025 yang hanya Rp9,2 triliun. Ini menjadi tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di atas 4%,” ujar Aang, Kamis (9/12/2024).

Menurutnya, inovasi menjadi kunci untuk menggali potensi baru di sektor ekonomi kreatif, UMKM, dan bidang lainnya yang dapat menjadi motor penggerak perekonomian daerah.

Kondisi Ekonomi Riau: Tantangan dan Peluang

Abdul Madian, Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda Riau, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Riau mengalami penurunan dari 4,2% pada 2023 menjadi sekitar 3% pada 2024. Ia menekankan perlunya optimalisasi potensi daerah agar tidak terjebak pada “kutukan 3%”.

“Peningkatan hilirisasi kelapa dan karet serta pemanfaatan infrastruktur seperti Tol Sumatra sangat penting untuk memperkuat sektor logistik dan perdagangan,” jelas Madian.

Ia juga memaparkan tujuh tantangan utama ekonomi Riau, termasuk minimnya dukungan untuk UMKM, defisit anggaran, dan ketergantungan pada sumber daya alam. Untuk itu, diversifikasi ekonomi, transformasi digital, penguatan SDM, dan penerapan ekonomi hijau menjadi langkah strategis yang harus diambil.

Sementara itu, realisasi investasi di Riau yang mencapai Rp87 triliun pada 2023 menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan. Namun, infrastruktur jalan yang belum memadai tetap menjadi kendala yang perlu segera diatasi.

Dunia Usaha dan Akademisi Beri Masukan

Dari sudut pandang dunia usaha, Penasehat Apindo Riau, Viator Butarbutar, menyoroti pentingnya memperbaiki kualitas faktor pendorong ekonomi.

“Riau memiliki sumber daya melimpah, tetapi pertumbuhan ekonominya stagnan di angka 3-4%. Perbaikan iklim investasi dan dukungan lebih besar untuk UMKM harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa Riau tidak bisa terus bergantung pada dana transfer pusat. Pengelolaan sumber daya lokal yang lebih kreatif dan inovatif sangat diperlukan.

Di sisi akademisi, Dahlan Tampubolon, ekonom Universitas Riau, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 akan berada di angka 5,3-5,5%, sementara Riau diperkirakan bisa mencapai 4,3%. Namun, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko global seperti perlambatan ekonomi China, perubahan iklim, dan kebijakan PPN yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

“Transformasi ekonomi menuju ekonomi hijau harus menjadi prioritas. Riau bisa memanfaatkan limbah sawit untuk biogas dan mengembangkan UMKM berbasis digital,” jelas Dahlan.

Forum Economic Outlook 2025 menghasilkan kesepakatan bahwa inovasi, kolaborasi, dan diversifikasi ekonomi adalah kunci menjaga pertumbuhan ekonomi di masa depan. Seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi elemen utama untuk menjawab tantangan ekonomi di tahun mendatang. ***