
MEDAN, GORIAU.COM - Pemimpin Redaksi (Pemred) GoRiau.com Hasan Basril memberikan kuliah umum tentang jurnalistik di Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Jumat, 14 November 2014.
Dalam kuliah umum tersebut Hasan Basril mengajak mahasiswa serius belajar menulis. Menurutnya, banyak keuntungan yang bisa diperoleh seseorang bila memiliki kemampuan menulis yang baik. "Dengan menulis di media massa, kita bisa menyampaikan gagasan kepada banyak orang, sekaligus berdiskusi dengan banyak orang," kata Hasan Basril.
Menulis di media massa, lanjut Hasan juga membuat seseorang menjadi populer atau dikenal banyak orang. "Selain itu, bisa menambah penghasilan, karena sebagian media massa memberikan honor kepada penulis yang tulisannya diterbitkan. Tapi saya mengingatkan, jangan honor tulisannya itu yang dijadikan alasan utama untuk menulis," sebut Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru itu.
Khusus bagi mahasiswa yang berminat menjadi jurnalis setelah lulus kuliah nantinya, belajar menulis jelas lebih penting lagi. "Bagi teman-teman yang berminat jadi wartawan, maka dari sekarang sudah harus mulai serius belajar menulis, karena untuk bisa menulis dengan baik diperlukan latihan secara terus-menerus dalam waktu yang panjang," jelas dosen jurnalistik di sejumlah perguruan tinggi di Pekanbaru tersebut.
Alumni Jurusan Sejarah USU Medan itu menyampaikan, jurnalis merupakan salah satu pekerjaan alternatif yang terbuka lebar bagi sarjana semua disiplin ilmu. Sarjana Ilmu Sejarah, menurut Hasan, cocok sekali bila memilih jurnalis sebagai profesi, sebab metode penelitian sejarah mirip dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan wartawan. "Pekerjaan wartawan terkadang memang mirip sejarawan, yakni sama-sama melakukan rekonstruksi terhadap peristiwa yang sudah berlalu," ujarnya.
Dalam kuliah umum yang dipandu staf BPNB Aceh-Sumatera Utara Nasrul tersebut, Hasan mengingatkan, bagi mereka yang ingin menjadi wartawan, tidak hanya ilmu meliput dan menulis berita yang perlu dipelajari, tapi juga harus mempelajari Kode Etik Jurnalistik (KEJ), UU Pers dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait dengan jurnalistik dan pers. "Wartawan yang tidak memahami Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers berpotensi membahayakan dirinya sendiri, membahayakan media tempatnya bekerja dan menzalimi orang lain," tegas tenaga penguji untuk Uji Kompetensi Jurnalis di AJI Indonesia itu.
Sementara itu Ketua Departemen Sejarah FIB USU Medan Edi Simarno dalam sambutannya mengatakan, belakangan ini semakin banyak alumni Ilmu Sejarah yang bekerja sebagai wartawan. "Ini membuktikan bahwa jurnalistik merupakan peluang kerja yang cukup diminati Sarjana Sejarah," kata Edi Sumarno.
Karena pertimbangan itulah, kata Edi Sumarno, Departemen Ilmu Sejarah FIB USU memasukkan mata kuliah jurnalistik dalam kurikulumnya. "Terima kasih banyak kepada adinda saya, Hasan Basril, yang sudah bersedia datang jauh-jauh dari Pekanbaru, untuk berbagi ilmu dan pengalamannya tentang jurnalistik," sambungnya.rls ***