
JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa merinci postur usulan pagu anggaran Kementerian Keuangan untuk tahun 2027 yang menembus angka Rp49,8 triliun. Pengajuan ini secara resmi disampaikan dalam agenda rapat kerja bersama anggota Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Purbaya menjabarkan struktur peruntukan dana tersebut yang didominasi oleh fungsi pelayanan umum senilai Rp45,50 triliun. Sisanya dialokasikan ke fungsi pendidikan senilai Rp3,99 triliun dan fungsi ekonomi sebesar Rp300,44 miliar. Usulan anggaran ini bersumber dari paduan rupiah murni senilai Rp42,34 triliun, PNBP Rp102,15 miliar, dan pos BU senilai Rp7,36 triliun.
"Pagu Kementerian Keuangan tahun anggaran 2027 diusulkan sebesar Rp49,8 triliun," bebernya.
Sebagian besar anggaran ditujukan untuk mendanai modernisasi sistem pengawasan dan pengelolaan keuangan negara. Beberapa proyek digitalisasi yang menjadi prioritas adalah KORTA System, pengembangan sistem penanganan tindak pidana perpajakan, Smart Customs and Excise System, dan penerapan Office Automation. Berdasarkan alokasi program kerjanya, dukungan manajemen menyerap dana paling tinggi yakni Rp45,81 triliun, sedangkan pengelolaan penerimaan negara dipatok di angka Rp3,62 triliun.
"Alokasi ini diperlukan untuk mendukung pelaksanaan tugas Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas fiskal, memperkuat layanan publik, serta mewujudkan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” rincinya.
Lebih lanjut, fungsi pendidikan yang mendapat porsi nyaris Rp4 triliun tersebut diproyeksikan untuk mengakselerasi program digitalisasi di satuan pendidikan sesuai Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Sebelumnya pada Rabu (12/8/2026), Purbaya telah memonitor pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) pada jenjang SMP dan SMA di Jakarta guna mengevaluasi efektivitas program inisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut.
"Saya tadi ingin melihat bagaimana pemakaian papan edukasi digital atau brite panel program Bapak Presiden Prabowo di sekolah-sekolah," tekannya.
Dalam kunjungannya, ia menghabiskan waktu sekitar 30 menit mengamati interaksi antara guru dan murid di kelas. Hasilnya, fasilitas berbasis teknologi itu terbukti memperlancar proses transfer ilmu pengetahuan, bahkan untuk materi yang rumit sekalipun.
Merespons tingkat efektivitas tersebut, kementeriannya berkomitmen memastikan dukungan finansial agar pengadaan layar interaktif ini bisa direalisasikan secara merata, dengan proyeksi ideal satu kelas memiliki satu layar digital pada masa mendatang.***