
PEKANBARU – Di balik meningkatnya tingkat hunian hotel saat blackout listrik Sumatera, pelaku usaha perhotelan di Riau justru menghadapi lonjakan biaya operasional dan gangguan layanan akibat pemadaman berkepanjangan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau, Ir. Nofrizal, mengatakan blackout yang terjadi pada Jumat (22/5/2026) malam tidak otomatis mendatangkan keuntungan bagi hotel, meski okupansi sempat meningkat.
Menurut dia, tambahan tamu yang datang justru banyak terserap untuk menutup biaya operasional penggunaan generator set (genset) yang bekerja berjam-jam selama pasokan listrik belum stabil.
“Dampak blackout memang menambah kenaikan occupancy. Tapi selisih kenaikan dari rate itu hanya untuk menutup cost BBM solar, tidak menjadi profit tambahan bagi hotel,” kata Nofrizal kepada GoRiau.com, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, rata-rata hotel terdampak blackout selama sekitar enam hingga delapan jam. Bahkan setelah listrik kembali menyala, sebagian hotel masih belum berani sepenuhnya beralih ke pasokan PLN karena khawatir kondisi daya belum stabil.
“Rata-rata blackout 6 sampai 8 jam, belum lagi kecemasan kalau terjadi sesuatu terhadap genset,” ujarnya.
Tak hanya hotel, kata Nofrizal, sejumlah unit usaha penunjang industri perhotelan juga ikut terdampak. Salah satunya layanan laundry rekanan hotel yang ikut mengalami gangguan akibat padamnya listrik.
Akibatnya, beberapa hotel terpaksa mencari penyedia laundry alternatif dengan biaya lebih mahal agar layanan kepada tamu tetap berjalan.
“Ada beberapa hotel juga yang laundry langganannya terdampak listrik mati sehingga operasional terganggu dan harus mencari laundry dengan harga atau cost yang lebih tinggi,” kata dia.
Menurut Nofrizal, sorotan publik seharusnya tidak hanya berhenti pada fenomena meningkatnya okupansi hotel saat blackout, tetapi juga pada dampak ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan pelaku usaha.
“Menurut saya, yang perlu disoroti bukan hanya kenaikan occupancy. Tapi imbas dari sini, masyarakat tetap menjadi korban, termasuk pengusaha hotel, restoran, dan lainnya,” ujarnya.
Ia menilai beban penggunaan genset berkepanjangan, ditambah berbagai komponen biaya operasional, semakin menyulitkan dunia usaha di tengah situasi darurat kelistrikan.
Nofrizal bahkan menyinggung kemungkinan perlunya pembahasan mengenai bentuk kompensasi atau perhatian terhadap sektor usaha terdampak, meski ia mengaku tidak menaruh ekspektasi besar.
Pasalnya, pemadaman terjadi tanpa jadwal pasti dan proses pemulihan dinilai melampaui estimasi yang sempat disampaikan.
“Mati tidak terjadwal. Pemulihan juga belum ada batas waktunya dan melewati yang dijanjikan. Kami diinformasikan listrik diperkirakan menyala pukul 00.00 WIB, tetapi hidupnya sekitar pukul 04.30 WIB dan sampai siang masih belum stabil,” kata Nofrizal.
Kondisi itu, lanjut dia, membuat banyak hotel tetap mengoperasikan genset hingga Sabtu siang demi menjaga layanan kepada tamu.
“Jadi masih pakai genset sampai sekarang, sehingga penggunaan solar meroket,” ujarnya.
Blackout yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada Jumat malam sebelumnya menyebabkan gangguan listrik luas di berbagai daerah, termasuk Pekanbaru. Sejumlah hotel, restoran, pelaku usaha, hingga masyarakat rumah tangga ikut terdampak akibat lamanya durasi pemadaman dan ketidakstabilan pasokan listrik saat pemulihan. ***